Darah Nifas

Definisi nifas

Nifas adalah darah yang keluar dari rahim wanita ketika proses melahirkan dan setelah melahirkan. Selain itu, juga dapat dikatakan yang termasuk salah satu darah nifas yaitu darah yang keluar sekitar dua atau tiga hari sebelum melahirkan yang disertai dengan rasa sakit hendak melahirkan, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ahli fiqih. Maka jika seorang wanita hamil keluar darahnya sebelum melahirkan tanpa disertai rasa sakit (akan melahirkan) tidak disebut sebagai darah nifas tetapi darah fasik (rusak) sehingga wanita tersebut dikatakan suci.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Sa’di rahimahullah menjelaskan perbedaan mengenai darah nifas bahwa yang dimaksud dengan darah nifas adalah darah yang keluar disebabkan melahirkan baik sebelum, ketika proses melahirkan, atau sesudah melahirkan sebagaiman penjelasan sebelumnya yaitu dengan diiringi rasa sakit hendak melahirkan. Adapun darah istihadhoh adalah darah yang keluar karena terjadi suatu sebab seperti penyakit atau semacamnya dan darah haidh adalah darah normal yang keluar dari wanita yang sehat …wallahu a’lam”

Darah nifas merupakan sisa darah yang terhalang di dalam rahim wanita pada saat hamil. Maka ketika melahirkan darah ini akan keluar sedikit demi sedikit. Pada umumnya darah nifas tersebut keluar mengawali proses kelahiran dengan syarat yang dilahirkan telah jelas berbentuk manusia yaitu ketika usia kandungan 81 hari atau umumnya 3 bulan. Dengan demikian, jika wanita mengalami keguguran sebelum batas waktu tersebut dan disertai keluarnya darah berupa gumpalan-gumpalan darah atau belum berbentuk manusia maka darah tersebut bukan termasuk darah nifas dan statusnya suci sehingga tidak boleh meninggalkan shalat dan puasa karena darah tersebut dinamakan darah rusak atau pendaharan.

Batas keluarnya darah nifas

Batas maksimal keluarnya darah nifas yaitu 40 hari terhitung mulai dari proses kelahiran atau 2 atau 3 hari sebelum melahirkan sebagaimana penjelasan sebelumnya sebagaimana hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ta’ala ‘anha berkata, “Para wanita yang sedang nifas tidak shalat pada  masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama empat puluh hari.” (HR. Tirmidzi dan lainnya).

Berdasarkan kesepakatan para ulama bahwa hadits ini menjadi patokan batas maksimal wanita nifas yaitu selama 40 hari akan tetapi apabila darah nifas sudah berhenti sebelum 40 hari maka diwajibkan untuk segera bersuci dan shalat karena tidak ada batas minimal keluarnya darah nifas. Adapun apabila sudah mencapai 40 hari sedangkan darah tidak juga berhenti keluar maka terdapat perincian:

  1. Apabila pada hari ke-41 darah tidak juga berhenti dan  hari ke-41 ini bertepatan dengan siklus  haid maka hari ke-41 ini diangggap sebagai darah haid.
  2. Apabila pada hari ke-41 darah tidak juga berhenti tetapi tidak bertepatan dengan siklus haid dan darah terus menerus mengalir maka termasuk darah istihadhoh dan statusnya suci sehinga tidak boleh meninggalakan ibadah shalat dan lainnya.
  3. Jika darah keluar lebih dari 40 hari dan tidak bertepatan dengan siklus haid serta darah tidak terus-menerus mengalir maka pendapat yang paling kuat -berdasarkan hadist yang menyebutkan batas maksimal nifas adalah 40 hari- maka darah ini disebut darah istihadhoh yang statusnya suci.

Apabila darah berhenti dari nifas sebelum 40 hari misalnya hari ke-20 maka diwajibkan untuk mandi, puasa, dan shalat akan tetapi kemudian darah keluar kembali sebelum 40 hari misalnya hari ke-30 hari maka darah yang keluar tersebut dianggap darah nifas adapun hukum puasa pada masa sucinya yaitu hari ke 21-29 tidak perlu diqadha berdasarkan pendapat yang benar.

Hukum berkaitan dengan nifas

Hukum yang berkaitan dengan darah nifas sama dengan hukum yang berkaitan dengan haid. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha ketika haji wada’ bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana ketika itu Aisyah mengalami haid sehingga ia menangis karena takut haidnya akan menghalanginya dari serangkaian ibadah haji. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah kamu sedang nifas?” Pada pertanyaan tersebut Rasulullah menyatakan nifas sehingga dapat diartikan bahwa yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah haid karena ‘Aisyah salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak mempunyai keturunan. Selain itu, berdasarkan ijma’(kesepakatan) ulama bahwa hukum yang berkenaan dengan nifas sama dengan hukum yang berkenaan dengan haid.

Hukum yang berkaitan dengan nifas:

  1. Seorang suami diharamkan menyetubuhi istrinya yang sedang nifas sebagaimana diharamkannya suami menyetubuhi istrinya yang sedang haid. Akan tetapi dibolehkan bermesraan asalkan tidak sampai berhubungan suami istri.
  2. Wanita nifas diharamkan berpuasa, shalat, thawaf di Ka’bah sebagaimana juga diharamkan bagi wanita haid.
  3. Wanita nifas diharamkan menyentuh mushaf Al-Qur’an apabila tidak dikhawatirkan hafalannya hilang. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan mushaf adalah Al-Qur’an bukan terjemahan.
  4. Wanita nifas diwajibkan untuk menqadha puasa wajib yang telah ditinggalkannya selama nifas sebagimana juga diwajibkan bagi wanita haid.
  5. Apabila darah nifas telah berhenti keluar maka diwajibkan mandi wajib sebagaimana hal ini juga diwajibkan bagi wanita yang telah selesai dari haid.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ta’ala ‘anha, beliau berkata, “Para wanita pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang nifas tidak shalat selama empat puluh hari (diriwayatkan oleh Imam hadist yang lima kecuali Imam An-Nasai)

Al-Majid ibnu Taimiyah rahimahullah kakeknya Syaikhul Islam ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Muntaqa menjelaskan bahwa makna hadits ini yaitu wanita yang sedang mengalami nifas di masa Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam diperintahkan untuk  meninggalkan shalat selama 40 hari.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ta’ala ‘anha, berkata, “Wanita dari istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk menahan diri selama nifas yaitu 40 hari dan tidak diperintahkan untuk menqadha shalatnya semasa nifas.

Berdasarkan hadist ini, seorang wanita yang mengalami nifas tidaklah diperintahkan untuk mengqadha shalatnya selama nifas karena jika ia nifas selama 40 hari maka dia harus mengqadha shalatnya 200 kali waktu shalat maka hal itu sangatlah memberatkan.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286)

Maka bertakwalah  kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At-Taghabun: 16)

Bagaimana dengan darah yang keluar ketika hamil?

Terdapat dua penjelasan Syaikh Al-Ustaimin mengenai hal itu, yaitu:

  1. Apabila darah tersebut keluar setiap bulannya pada masa hamil dan bertepatan dengan siklus haid maka darah ini disebut darah haid karena wanita yang mengalami hal ini ketika hamil tidak mempengaruhi siklus haidnya.
  2. Apabila darah tersebut keluar di bulan yang kedua atau ketiga ketika hamil disebabkan membawa sesuatu yang berat atau sebab lain maka darah ini sebagaimana juga dimaksudkan oleh Imam Ahmad sebagai darah rusak dan hukumnya suci.

[Ummu Anas]

Maraji’:

-          Tanbihat ‘ala Ahkamu takhtashu bilmu’minat karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan.

-          Problem Darah Wanita [terj.] karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerbit Ash-Shaf Media.

-          Al-Wajiz [terj.] karya ‘Abdul  ‘Azhim bin Badawi Al-Khalali, penerbit Pustaka As-Sunnah.

-          Rekaman kajian Fiqih Muslimah oleh Al-Ustadz Aris Munandar, SS.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: