Kepada Pembaca

Bismillaahirrahmaanirrahiim …

Kepada seluruh pengunjung blog buletinzuhairoh.wordpress.com kami sampaikan bahwa website kami pindah alamat menjadi buletin.muslimah.or.id

Jazaakumullaahu khairan

 

-Tim Pengurus Buletin Zuhairoh-

Post it-Zuhairoh

Saudariku, Inilah Mahram Kita

Alhamdulillah puji syukur kita kehadirat Allah subhaanahu wa ta’aala karena nikmat iman yang telah Allah berikan kepada kita. Saudariku, sebagaimana kita ketahui semakin jauh suatu zaman dari zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka akan semakin banyak fitnah yang terjadi di dalamnya baik fitnah syubhat maupun fitnah syahwat. Fitnah syahwat ini bisa terjadi apabila kita tidak mengenal siapa mahram kita dengan baik. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama belajar dan bersabar dalam membaca artikel ini.

            Saudariku, sering kita mendengar tentang istilah “bukan muhrim”. Namun sesungguhnya apakah kita tahu hakikat makna muhrim ini? Istilah muhrim adalah istilah yang salah karena muhrim merupakan istilah yang digunakan untuk seseorang yang sedang berihram (berniat untuk haji), dan yang tepat adalah “bukan mahram” (mahram adalah orang yang haram dinikahi). Sangat sedikit kaum muslimin yang mengetahui hakikat siapa mahramnya, sesungguhnya perkara ini amat penting karena kita akan dapat menjaga sikap di depan non-mahram dan mahram kita.

            Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi (lihat al-Wajiiz) menyatakan bahwa seorang wanita haram dinikahi karena tiga sebab, yaitu karena nasab (keturunan), persusuan, dan mushaharah (pernikahan). Oleh karena itu, mahram wanita juga terbagi menjadi tiga macam yaitu: mahram karena nasab atau keluarga, persusuan, dan pernikahan.

a. Mahram Karena Nasab

Mahram karena nasab adalah mahram yang berasal dari hubungan darah atau hubungan keluarga.

Allah ta‘aala berfirman dalam surat an-Nuur ayat 31 (yang artinya), “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka.’”

Menurut ahli tafsir, yang haram dinikahi bagi wanita menurut ayat ini adalah:

  1. Ayah (termasuk kategori ayah di sini adalah ayah kandung, kakek baik dari ibu maupun ayah, dan juga ayah-ayah mereka ke atas). Adapun bapak angkat tidak termasuk mahram.
  2. Anak laki-laki (kategori ini meliputi cucu baik dari anak laki-laki maupun anak perempuan).
  3. Saudara laki-laki, baik saudara kandung, maupun saudara sebapak, ataupun saudara seibu saja. Saudara angkat, anak kandung dari bapak atau ibu maka ia juga termasuk mahram.
  4. Keponakan (baik keponakan dari saudara laki-laki maupun perempuan dan anak mereka).
  5. Paman (baik paman dari ibu maupun dari bapak).

b. Mahram Karena Persusuan (ar-Radha’)

Menurut pendapat yang kuat dari para ulama, persusuan yang menjadikan seseorang menjadi mahram mempunyai beberapa persyaratan yaitu:

  1. Telah terjadinya proses penyusuan selama 5 kali.
  2. Penyusuan terjadi selama masa bayi menyusui yaitu dua tahun sejak kelahirannya. (kajian Ustadz Aris Munandar tanggal 22 Juni 2012).

            Dalil yang menyatakan hubungan mahram dari persusuan yaitu “Juga ibu-ibu yang menyusui kalian serta saudara-saudara kalian dari persusuan” (QS. an-Nisaa’: 23).

            Disebutkan juga oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu, beliau bersabda, “Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab” (HR. Bukhari 3/222/ 2645 dan Muslim 2/1068/ 1447).

            Dari dalil tersebut yang termasuk mahram karena sebab persusuan yaitu bapak persusuan (suami dari ibu susu), anak laki-laki dari ibu susu, saudara laki-laki sepersusuan, keponakan persusuan (anak saudara sepersusuan), dan paman persusuan (saudara laki-laki dari bapak atau ibu susu). (Ahkaamu an-Nikaah wa az-Zifaaf karya Abu ‘Abdillah Musthafa bin al-’Adawi hal 26).

c. Mahram Karena Mushaharah (Pernikahan)

            Hubungan mahram yang berasal dari pernikahan ini disebutkan oleh Allah ta‘aala dalam firman-Nya (yang artinya):

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka…” (QS. an-Nuur: 31).

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu (ibu tiri)” (QS. an-Nisaa’: 22).

“Diharamkan atas kamu (mengawini) … ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, dan istri-istri anak kandungmu (menantu)” (QS. an-Nisaa’: 23).

            Berdasarkan pernyataan di atas maka disimpulkan bahwa mahram bagi wanita karena sebab ini adalah: ayah mertua (ayah suami), anak tiri (anak dari suami atau istri lain), ayah tiri (suami ibu tapi bukan ayah kandungnya), dan menantu laki laki.

Adapun yang bukan mahram bagi wanita adalah ayah dan anak angkat, sepupu (anak paman atau bibi), saudara ipar, dan mahram titipan.

Yang Boleh Dilakukan dengan Mahramnya

Yang boleh dilakukan dengan mahram ini berbeda antara mahram karena nasab dan mahram karena persusuan. Yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan mahram karena persusuan yaitu:

  1. Boleh saling melihat.
  2. Boleh berkhalwat (berduaan).
  3. Boleh menjadi teman safar (bepergian jauh).
  4. Tidak diperbolehkan menikah.
  5. Keduanya tidak ada hubungan saling mewarisi.
  6. Tidak ada kewajiban menafkahi.
  7. Tidak merdeka secara otomatis jika salah satunya menjadi budak.
  8. Persaksiannya tidak ditolak jika dia seorang yang benar dan menguntungkan.

Hukum wanita dengan mahramnya secara umum diantaranya:

1)      Tidak boleh menikah dengan mahramnya.

2)      Mahram boleh menjadi wali pernikahan.

3)      Wanita tidak boleh safar (bepergian jauh) kecuali dengan mahramnya.

4)      Tidak boleh menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada mahramnya.

5)      Tidak boleh khalwat (berdua-duaan), kecuali bersama mahramnya.

6)      Tidak boleh berjabat tangan kecuali dengan mahramnya.

[Arliana Fajrin]

Sumber:

Ahkaamu an-Nikaah wa az-Zifaaf karya Abu ‘Abdillah Musthafa bin al-’Adawi

Kajian Ustadz Aris Munandar, M.Pd.I

Artikel di muslimah.or.id dengan penambahan dan pengurangan

Potret Wanita yang Dipuji dan yang Dilaknat

Posisi wanita ibarat pedang bermata dua. Jika ia baik, dapat menunaikan tugas pokok dan tujuannya yang telah digariskan, maka ia akan menjadi sebuah pondasi yang baik dalam bangunan masyarakat Islami. Pondasi itu saling memegang akhlak dengan kuat dan berdiri di atasnya penyangga-penyangga yang kokoh. Akan tetapi jika sebaliknya -tidak demikian keadaan wanita-, sebaliknya pulalah yang terjadi.

 

Wahai Kaum Wanita, Begitu Mulianya Dirimu

Begitu mulianya wanita, sehingga Islam telah memperhatikan wanita dengan perhatian yang sangat tinggi, memagarinya dengan pembinaan dan perhatian. Islam mensyariatkan hak-hak wanita yang dapat memperbaiki keberadaannya dan fitrahnya. Hal ini tidak dapat ditetapkan oleh suatu umat pun dari seluruh umat sepanjang masa.

Akan tetapi tatkala wanita telah berpaling dari urusannya yang pokok, urusan yang telah digariskan oleh Islam baginya dan ia lebih memilih sesuatu yang buruk serta menghapus ajaran-ajaran yang baik dalam dirinya, maka ketika itu ia akan berubah menjadi pedang yang membunuh. Pedang yang membinasakan dan merobohkan umat-umat, serta merobek-robek mereka dengan robekan yang buruk.

 

Mari Kita Renungkan

Wahai saudariku… pentingnya kita dalam menapak tilas sejarah masa lalu tentang generasi wanita-wanita yang dipuji dan yang dilaknat oleh Allah ta‘aala. Sebuah urgensitas yang harus direnungkan bagi kita seorang muslimah. Bagaimana potret kehidupan kaum wanita di zaman silam?

Kebutuhan akan figur teladan adalah fitrah manusia. Sebab, contoh konkret dan gambaran hidup memberi pengaruh tersendiri yang tidak diberikan oleh paparan teori semata. Oleh karena itu, banyak sekali ayat-ayat yang tertulis di dalam Al-Qur’anul Karim dan datang perintah untuk mengambil pelajaran darinya. Allah ta‘aala berfirman (yang artinya):

“Sesungguhnya, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS. Yusuf: 111).

Hendaknya seseorang jangan melupakan pelajaran sejarah umat-umat terdahulu. Hal ini dikarenakan penyelewengan dan penyimpangan wanita merupakan sebab utama hancurnya peradaban dahulu dengan kehancuran yang mengenaskan dan turunnya adzab Allah untuk para pelakunya.

 

Potret Wanita yang Dipuji

Terdapat kisah empat wanita yang tersebut dalam hadits berikut:

“Seutama-utama wanita penghuni surga adalah Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad, Maryam bintu ‘Imran, dan Asiyah bintu Muzahim -istri Fir’aun- (HR. Ahmad, shahih).

1.      Khadijah Binti Khuwailid Radhiyallaahu ‘Anha

Khadijah radhiyallaahu ‘anha tumbuh dengan akhlak yang utama dan adab yang mulia. Khadijah memiliki kehormatan, kemuliaan, dan kesempurnaan yang terjaga sehingga dikenal dengan julukan ath-Thahiirah (wanita yang suci) di tengah para wanita Makkah pada masanya.

Khadijah seorang wanita berdarah biru yang suci. Tentu saja ini merupakan kemuliaan yang agung, karena mendapatkan julukan yang harum dan penuh barakah ini. Padahal saat itu merupakan zaman yang dilumuri kotoran jahiliyah, sementara Khadijah menghadirkan nilai sebagai seorang wanita. Khadijah menjadi contoh yang mengagumkan di antara para wanita penduduk Makkah dalam hal kedudukan, kemuliaan, dan harta.

 2.      Fathimah binti Muhammad Radhiyallaahu ‘Anha

Pemimpin wanita pada masanya ini adalah putri ke-4 dari anak-anak Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Rasulullah memberi nama Fathimah dan memberikan julukan az-Zahra. Sedangkan kun-yah-nya adalah Ummu Abiha (ibu bagi bapaknya). Ia merupakan putri yang paling mirip dengan ayahnya. Fathimah tumbuh di bawah asuhan ayahnya yang penyayang.

Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam selalu memperhatikan pendidikan Fathimah agar ia bisa mengambil pelajaran yang banyak dari beliau berupa adab, kasih sayang, dan bimbingan yang lurus. Seperti yang telah didapat oleh ibunya, Khadijah, berupa sifat-sifat yang suci dan perangai yang terpuji. Dengan dasar itu, Fathimah tumbuh di atas kesucian yang sempurna, kemuliaan jiwa, cinta kepada kebaikan, dan berakhlak baik. Ia mampu mengambil keteladanan yang tinggi dari ayahnya dalam segala perbuatan dan tingkah laku.

‘Aisyah Ummul Mukminin radhiyallaahu ‘anha berkata, “Saya tidak melihat seseorang yang perkataan dan pembicaraannya paling menyerupai Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam selain Fathimah. Jika Fathimah masuk menemui Rasulullah maka beliau berdiri menuju kepadanya, menciumnya dan menyambutnya. Seperti itu juga Fathimah berbuat terhadap beliau” (HR.  At-Tirmidzi, shahih).

Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengungkapkan rasa cinta kepada putrinya ini tatkala beliau berkata di atas mimbar, “Sesungguhnya Fathimah bagian dari saya, barangsiapa yang membuatnya marah, maka dia telah membuat saya marah”  (HR Bukhari).

 3.      Maryam Binti ‘Imran rahimahallaah

Sebagiamana Allah ta‘aala berfirman (yang artinya), “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam al-Qur’an” (QS. Maryam: 16). Yaitu Maryam binti ‘Imran dari anak keturunan Dawud ‘alaihissalaam. Maryam berasal dari keluarga yang suci dan baik di antara Bani Isra’il.  Allah telah menyebutkan kisah bagaimana ibunya melahirkannya dalam surat Ali ‘Imran, bahwa ibunya menadzarkannya sebagai hamba yang mengabdi kepada Allah. Maksudnya, dengan memberikan pelayanan di Masjid Baitul Maqdis, dan saat itu mereka mendekatkan diri (kepada Allah) dengan hal itu.

Sebagaimana Allah ta‘aala berfirman (yang artinya), “Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, dan membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik” (QS. Ali ‘Imran: 37). Maryam tumbuh di antara Bani Isra’il dengan pertumbuhan yang luar biasa lagi terhormat. Maryam termasuk wanita yang taat beribadah, rajin dalam menjalankan perintah agama, terkenal dengan ibadah yang luar biasa, fokus untuk beribadah, dan sangat tekun.

 4.      Asiyah Binti Muzahim rahimahallaah

Wanita mukminah yang namanya terukir dengan indah di dalam kitab mulia-Nya di mana setiap saat ribuan jutaan Islam membaca namanya. Al-Qur’an mengabadikan namanya sebagai contoh dan teladan bagi kaum wanita muslimah yang ingin mengikuti jejaknya dialah Asiyah istri Fir’aun. Karena keteguhan iman, ketaatan, dan kepasrahannya yang mendalam terhadap  takdir Rabb-Nya maka surgalah menjadi tempat tinggalnya yang abadi.

Allah ta‘aala berfirman (yang artinya), “Dan Allah membuat membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim’. (QS. At-Tahrim: 11).

Sosok wanita mukminah ini memiliki firasat yang kuat dan benar, beriman kepada Musa ‘alaihissalaam, sehingga dia disiksa oleh Fir’aun. Maksudnya Allah telah menjadikan keadaannya sebagai perumpamaan tentang keadaan orang-orang yang beriman sebagai sugesti bagi mereka agar teguh dalam ketaatan, berpegang kepada agama, dan sabar jika ditimpa kekerasan. Juga bahwa pasukan kafir tidak akan mampu menimpakan mudharat kepada mereka. Seperti keadaan istri Fir’aun, meskipun dia berada di bawah kekuasaan orang kafir yang paling kafir. Imannya kepada Allah membuatnya berada di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Di sini terkandung dalil bahwa hubungan kekufuran tidak menimbulkan mudharat terhadap iman.

Potret Wanita yang Dilaknat

Sebagaimana kisah dua wanita dalam ayat berikut:

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya) ‘masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)’. (QS. At-Tahrim: 10).

Yakni, berbaur dan bergaulnya mereka dengan kaum muslimin, yang demikian itu sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka di sisi Allah, seandainya di dalam hatinya tidak terdapat keimanan sedikitpun.

Maksudnya, dua orang Nabi dan Rasul selalu berada bersama keduanya siang dan malam, memberi makan keduanya, mencampuri, dan menggauli mereka berdua dengan perlakuan yang mesra lagi menyenangkan. Lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya dalam hal keimanan, mereka tidak sepakat untuk satu iman dengan mereka, tidak juga mau mempercayai risalah yang diemban keduanya. Semua itu tidak akan memperoleh apa-apa dan tidak akan mampu menolak petaka yang akan ditimpakan kepada mereka.

Dalam Surat At-Tahrim di atas, yang dimaksud dengan pengkhianatan bukan dalam fahisyah (zina), tetapi pengkhianatan dalam masalah agama. Karena istri-istri Nabi itu terpelihara dari perselingkuhan atau perzinaan demi menjaga kehormatan para Nabi.

Berusaha Meraih Predikat Wanita Shalihah

Sekilas kita sudah mengetahui potret wanita yang dipuji dan yang dilaknat. Dengan sedikit menilik kembali kisah-kisah di atas memberikan gambaran bagi kita sebagai seorang muslimah, supaya dapat memetik manfaat. Kemudian kita berlomba-lomba untuk menuju ketaatan kepada-Nya dan berusaha agar meraih predikat wanita shalihah. Wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia dan tidak ada alasan bagi wanita shalihah selain surga-Nya. Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam orang-orang yang taat dan tunduk terhadap perintah-Mu.

Wallaahu a’lam bish-shawaab

[Rahmawati]

Referensi:

  1. Tafsir Ibnu Katsir, Dr. Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, hal 38-40, Pustaka Imam Syafi’i
  2. Al-Quran dan As-Sunnah Bicara Wanita, hal: 212-214, Darul Falah
  3. Sirah Shahabiyah: Kisah Para Sahabat Wanita, Mahmud Mahdi Al-Istambuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, Maktabah Salafy Press
  4. Wanita yang Dijamin Surga, Ahmad Khalil Jam’ah, Darul Falah

Jika Kau Jatuh Hati

Jika Kau Jatuh HatiBagian I

Saudariku muslimah, marilah kita bersyukur kepada Allah ta‘aala atas setiap kenikmatan yang diberikan kepada para hamba-Nya. Sebuah anugerah yang indah dari Allah yang membedakan insan manusia dengan makhluk lainnya, yang menghiasi perjalanan hidup manusia hingga tampak indah dan berwarna, anugerah itu adalah ‘cinta’. Wajah yang murung menjadi tersenyum karena cinta, bunga-bunga bermekaran karena cinta, sebuah karang es yang dingin mencair karena cinta, hati pun menari karena cinta.

Read more of this post

Berbakti kepada Kedua Orang Tua

Mungkin sebagian dari kita bingung mengisi waktu liburan kali ini. Ada yang mengisinya dengan menonton televisi, tamasya, belanja, jalan-jalan, dan lain-lain. Ada yang mengisi liburannya dengan setumpuk kegiatan organisasi di kampus, ada pula yang mengisinya dengan menghadiri banyak pengajian. Sebagian mengisi liburan dengan kegiatan yang bermanfaat, sedangkan sebagian yang lain mengisinya dengan kegiatan yang sia-sia. Terlepas dari semua itu, tidakkah kita ingat bahwa terdapat suatu kegiatan yang sangat mulia dan utama? Kegiatan mulia yang bernama “berbakti kepada kedua orang tua”.

Kita pasti sudah tidak asing dengan kata “berbakti kepada kedua orang tua” yang sering kita jumpai di pengajian-pengajian dan buku-buku keislaman. Pada Zuhairoh edisi kali ini, kami ingin mengingatkan kembali tentang tema berbakti kepada kedua orang tua serta kisah para ulama dalam menaati kedua orang tua. Read more of this post

Adab ketika Makan dan Minum

Seorang muslimah makan sambil berjalan, makan dengan tangan kiri, tanpa berdoa, bahkan menyisakan makanan, hal ini seakan sudah menjadi pemandangan umum di kantin-kantin kampus. Betapa miris hati ini melihatnya. Bila amal ibadah yang ringan saja sudah ditinggalkan dan disepelekan, bagaimana dengan amalan yang besar pahalanya?? Atau mungkinkah karena hal itu hanya merupakan suatu ibadah yang kecil kemudian kita meninggalkannya dengan alasan kecilnya pahala yang akan kita peroleh? Tidak begitu Saudariku … Yang sedikit apabila rutin dilakukan, maka akan menjadi banyak! Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu.” (QS. Muhammad  33) Read more of this post

Nikmat Berkendaraan

Pada masa silam, manusia bepergian dengan berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain dengan membawa barang atau perbekalan di atas punggungnya. Sebagian yang lain bepergian dengan menunggang hewan tunggangan sambil membawa berbagai muatan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan ia (hewan ternak) mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Rabbmu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. An-Nahl: 7-8) Adapun di masa sekarang, begitu mudahnya seseorang untuk bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu cepat tanpa banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran, walaupun terkadang tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan.

Kendaraan sebagai Bukti Kasih Sayang Allah Read more of this post

Mencerdaskan Diri dengan Ilmu Syar’i

Tidak diragukan lagi bahwa memahami ilmu syar’i (ilmu agama) adalah hal yang sangat penting, baik bagi seorang muslim maupun muslimah. Kita membutuhkan ilmu syar’i sebagai bekal hidup, bahkan dalam setiap tarikan nafas yang kita hirup dan setiap detik yang kita lalui, semuanya membutuhkan ilmu. Hal ini karena sesungguhnya setiap perkataan, perbuatan, bahkan apa yang ada di hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang kamu tidak mengetahui pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al Israa`: 36)

Oleh karena itu, kita harus mempelajari ilmu syar’i karena ilmu syar’i merupakan sumber kebahagiaan, baik di kehidupan dunia maupun akhirat. Kita juga membutuhkan ilmu syar’i sebagai pedoman hidup. Terlebih lagi bagi seorang wanita, karena wanita akan menjadi ibu yang kelak akan mendidik anak-anaknya. Seorang ibu adalah pendidik yang utama bagi anak-anaknya. Lantas bagaimanakah jadinya jika pendidiknya adalah seorang yang tidak berilmu? Bagaimana mungkin seseorang yang tidak mempunyai sesuatu akan dapat memberikan sesuatu kepada orang lain? Read more of this post

Berbahagialah dengan Tauhid

Saudariku muslimah yang dimuliakan Allah..

Pernahkah terbetik olehmu, untuk apakah kita diciptakan di dunia ini, sedangkan pada akhirnya kita akan dimatikan? Ketahuilah wahai Saudariku, Allah Ta’ala itu Maha Berkehendak, Yang menghendaki terciptanya alam semesta dan seluruh isinya serta menghendaki hikmah di balik semua penciptaan ini. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?”

Saudariku, Tahukah Engkau Apakah Tauhid Itu? Read more of this post

%d bloggers like this: