Akidah yang Benar dan Akidah yang Salah, Tentu Berbeda!

Setiap hamba Allah perlu mengenal Rabb-nya. Kenapa? Karena seseorang tidak akan lepas dari tiga hal yang pasti ditanyakan dialam kubur nanti: siapa sesembahanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu? Pertanyaan tersebut tidak begitu saja mudah untuk dijawab seperti menghapal pelajaran di sekolah atau di bangku kuliah. Tingkat keimanan seseorang berpengaruh terhadap mudah atau sulitnya seseorang menjawab ketiga hal tersebut. Sangat mengerikan apabila kita tidak mampu menjawabnya. Tentulah siksa akan disiapkan bagi orang-orang yang tidak dapat menjawab pertanyaan kubur dengan benar. Wa liyadzubillah (kita berlindung kepada Allah dari siksa tersebut).

Mengenal Allah bukan sekadar mengetahui dan menghapal asma` (nama-nama) dan sifat-sifat Allah. Akan tetapi, kita harus meyakini keesaan Allah dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah (rububiyah Allah), peribadahan (uluhiyah Allah), dan asma` dan shifat-Nya.

Beriman kepada Allah dalam ketiga hal tersebut merupakan kunci dari akidah yang benar. Akidah seseorang dapat dikatakan telah benar jika dia telah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mewujudkan dengan amal perbuatan bahwa: (1) hanya Allah yang mencipta langit, bumi, dan seluruh makhluk-Nya, hanya Allah yang memelihara, memberi rezeki, dan mengadzab mereka (jika mereka durhaka kepada Allah); (2) hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak memperoleh persembahan peribadahan dari seluruh makhluk di muka bumi ini; (3) hanya Allah yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang Mahamulia, tidak ada satupun kekurangan di dalamnya, dan tak ada satu makhluk pun yang menyamai Allah dalam kemuliaan ini.

Beriman terhadap siifat rububiyah Allah, sifat uluhiyah Allah, serta nama-nama dan sifat-sifat Allah terangkai menjadi satu, tak boleh dipisahkan. Ketiga hal tersebut harus diimani oleh setiap muslim dan muslimah, termasuk juga kita, tentunya. Apabila ada salah satu bagian di antara ketiga tauhid tersebut yang tidak terpenuhi, maka orang tersebut telah melakukan kesyirikan. Sebagai contohnya, yaitu kaum musyirikin Quraisy. Mereka mentauhidkan Allah dalam hal rububiyah Allah, yaitu dengan meyakini bahwa hanya Allah pencipta alam semesta, pengatur seluruh alam, pemberi rezeki, dan yang mampu menimpakan azab. Akan tetapi, kaum musyrikin Quraisy tidak mentauhidkan Allah dalam hal peribadatan kepada Allah (uluhiyah Allah). Mereka tetap saja menyembah berhala, berdoa kepada berhala-berhala yang mereka buat dari bebatuan dan bahan makanan. Mereka juga mempersembahkan hewan sembelihan kepada selain Allah. Oleh sebab itulah, mereka tergolong orang kafir dan musyrik. Kekafiran merekalah yang menyebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka.

Berdasarkan penelitian ilmiah yang sangat mendalam terhadap dalil-dalil di dalam al-Quran dan hadits-hadits yang berkaitan dengan keesaan Allah, para ulama kaum muslimin menyimpulkan bahwa tauhid terbagi menjadi tiga macam, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat.

Tauhid Rububiyah

Tauhid rububiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah Ta’aala dalam perbuatan-perbuatan-Nya.

Apabila ada yang bertanya ”Siapakah Rabb-mu?”, maka jawablah ”Rabb-ku adalah Allah, yang telah memelihara diriku dan alam semesta dengan nikmat-nikmat-Nya. Dialah satu-satunya sesembahan, tidak ada sesembahan yang lain bagiku”. Sebagaimana yang setiap hari kita baca dalam shalat–paling sedikit tujuh belas kali–yaitu firman Allah Ta’aala, Alhamdulillaahi rabbil `aalamiin” (Q.s. Al-Fatihah: 2), yang artinyasegala puji bagi Allah, Rabb semesta alam)”. Maksud ”Rabb” disini adalah Dia-lah Allah yang telah mengatur dan memelihara alam semesta ini sehingga semua berjalan dengan rapi dan teratur. Adanya siang dan malam yang silih berganti, jutaan bintang di langit yang kesemuanya tertata rapi dan tidak bertabrakan, rezeki yang sudah ditentukan bagi setiap makhluk-Nya, hingga binatang melata sekalipun. Semua ayat-ayat yang terbentang di hadapan kita menunjukan kebesaran dan keagungan-Nya. Atas dasar itulah, kita wajib untuk beribadah kepada-Nya semata. Adapun ibadah yang dimaksud adalah mentauhidkan-Nya, taat dan mengikuti syariat-Nya, serta mengagungkan perintah dan larangan-Nya.

Maka, sungguh sombong seorang makhluk yaitu manusia maupun jin  yang mengatakan bahwa alam semesta ini terjadi dengan sendirinya karena kehendak atau teori alam. Kemudian mereka tidak pernah mengagungkan Rabb-nya, dan mereka merasa bahwa kesuksesan yang telah dimiliki adalah jerih payahnya sendiri tanpa campur tangan Allah. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberi hidayah kepada mereka.

Tauhid Uluhiyah

Tauhid uluhiyah adalah mempersembahkan perbuatan-perbuatan hamba Allah yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri dan beribadah hanya kepada-Nya, seperti: berdoa, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakal, bertobat, dan lain-lain.

Allah berfirman (yang artinya),

Dan sesembahanmu adalah sesembahan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan (berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Q.s. Al-Baqarah: 163).

Allah juga berfirman (yang artinya),

Janganlah kamu menyembah dua sesembahan. Sesungguhnya Dia-lah Sesembahan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut” (Q.s. An-Nahl: 51).

Kedua ayat diatas menunjukkan bahwasanya seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah Ta’aala semata. Pelaksanaan ibadah tersebut juga harus sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimana menurutmu wahai Saudariku, dengan seorang yang mengaku beragama Islam, dia juga shalat dan bersedekah, namun masih saja meminta-minta dan menangis kepada orang yang sudah mati di kuburan? Dia juga berharap orang yang sudah mati mampu memberikan keselamatan dan kekayaan pada dirinya. Sungguh, Allah murka dengan sebenar-benar murka. Mereka pun kelak akan kekal di dalam api neraka.

Oleh karena itu, sebagai hamba Allah yang berakal, hendaknya kita beribadah sesuai dengan aturan dan tuntunan yang telah ditentukan oleh Al-Khalik. Agar jerih payah dan pengorbanan yang telah kita lakukan tidak bernilai sia-sia, dan Allah ridha kepadanya.

Tauhid Asma` wa Shifat

Tauhid asma` wa shifat adalah keyakinan tentang keesaan Allah Ta’aala dalam hal nama dan sifatnya yang terdapat dalam al-Quran dan al-Hadits, disertai dengan mengimani makna-makna dan konsekuensinya.

Allah Ta’aala berfirman (yang artinya),

Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu” (Q.s. Al-A’raaf: 180).

Nama-nama dan sifat-sifat Allah penuh pujian. Janganlah engkau mengingkarinya, karena yang demikian itu adalah suatu kekufuran, sedangkan kita diperintahkan untuk menjauh dari kekufuran.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tauhid asma’ wa shifat adalah sebagai berikut:

  • ·Harus menetapkan semua nama dan sifat Allah, tidak menafikan (meniadakan) dan tidak menolaknya.
  • ·Tidak boleh melampaui batas dengan menamai atau menshifati Allah diluar shifat yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
  • ·Tidak menyerupakan nama dan shifat Allah dengan nama dan shifat makhlukNya
  • ·Tidak perlu (dan tidak mungkin) untuk mencari tahu hakikat bentuk shifat-shifat Allah.
  • ·Beribadah kepada Allah sesuai dengan konsekuensi asma’ dan shifat-Nya.

Adapun hal-hal tersebut harus kita perhatikan, karena di zaman sekarang banyak sekali pemikiran menyimpang yang dilontarkan oleh kaum filsafat (yaitu orang orang yang disebutkan dalam al-Quran sebagai orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat) dan mereka itulah orang-orang yang dicela oleh Allah Ta’aala.

Di antara syubhat yang mereka lontarkan mengenai asma` wa shifat yaitu mereka mempertanyakan ”bagaimana” keadaan ‘arsy Allah ketika Allah turun ke langit dunia diwaktu sepertiga malam. Mereka mengatakan bahwa sepertiga malam setiap wilayah berbeda-beda, sehingga sepertiga malamnya pun juga berbeda. Jadi kapan Allah berada di ‘arsy?! Hal ini adalah pertanyaan yang orang-orang yang hanya mengikuti hanya nafsu semata. Merekalah orang-orang yang tidak menggunakan al-Quran dan as-Sunnah sebagai petunjuk, karena tidak ada satu sahabat pun yang bertanya seperti ini kepada Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam.  Sehingga benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), ”Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitabullah (al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ’alaihi wa sallam.”

Wahai saudariku, beruntunglah orang-orang yang mengenal Allah Ta’aala sehingga dapat menghamba kepada-Nya dengan benar. Tidaklah seseorang dapat beribadah dengan benar kecuali dengan menggenggam ilmu tentang segala perintah dan larangan Sang Pembuat Syariat. Semoga Allah menolong kita untuk beribadah kepada-Nya dengan benar. Wallaahu a’lam. [Ummu Afra & Ummu Salamah]

Maraaji’ (Referensi):

– Mutiara Faedah Kitab Tauhid. Abu ‘Isa ‘Abdulloh Bin Salam. Pustaka Muslim. Yogyakarta.

– Al-Waajibaat (Terj.). Ibrahim Bin Asy-Syaikh Shalih Bin Ahmad Al-Khuraisyi.

– Syarh Tsalatstil Ushul (Terj.). Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin dan Syaikh `Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: