Jalan Kebenaran Hanya Satu

Saudariku…… Sering kali kita mendengar pepatah mengatakan ”…seribu jalan menuju Roma” atau ada lagi orang yang mengatakan bahwa semua agama itu sama, karena semua mengajarkan kebaikan dan tujuannya sama. Namun, hal ini tidak berlaku dalam urusan agama. Banyak sekali jalan-jalan, padahal sebenarnya hanya ada satu-satunya jalan yang akan membawa kita selamat sampai di tujuan. Mengapa perlu pemahaman yang benar bahwa jalan kebenaran hanya satu? Tentunya, ilmu yang benar akan melahirkan amalan yang shalih. Tidakkah kita ingin beramal shalih kemudian menuai hasilnya di akhirat kelak? Tentu saja semua orang menginginkan kehidupan yang selamat di dunia dan akhirat. Tidaklah seseorang beramal dengan benar melainkan jika dia mempunyai pemahaman yang benar terhadap agamanya. Mentauhidkan Allah Saudariku… Mentauhidkan Allah ta’aala adalah sesuatu yang harus dimiliki seorang hamba Allah agar dia tetap berada pada jalan yang benar. Begitu banyak jalan yang dibisikkan setan sehingga kita bingung untuk memilih jalan yang benar. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata, ”Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam membuatkan kami sebuah garis lurus dan beliau shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ’Ini adalah jalan Allah’, Kemudian beliau membuat garis-garis lain di kanan dan kirinya, dan bersabda: ’Ini jalan-jalan lain, dan pada setiap jalan ini terdapat setan yang menyeru ke jalan-jalan tersebut.’ Beliau shallallahu ’alaihi wasallam lalu membaca [firman Allah ta’aala, yang artinya], ’Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus. Oleh karena itu, ikutilah! Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang akan memecah belah kamu dari jalan-jalan-Nya.’ (Q.s. Al An’aam : 153).” (Riwayat Ahmad) Berdasarkan hadits tersebut, tentunya kita perlu mengetahui definisi ”jalan” yang dimaksud tersebut. Ibnul Qayyimrahimahullah menerangkan bahwa maksud dari ”jalan” tersebut adalah rukun kedua dari tauhid itu sendiri. Rukun pertama adalah syahadat ”laa Illaha Illallaah”. Adapun rukun kedua adalah syahadat bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah. Rukun ini sangat perlu diperhatikan, karena mengandung syarat diterimanya amal seseorang. Syarat diterimanya amal ada dua, yaitu:

  1. Ikhlas karena Allah ta’aala semata.
  2. Menjadikan Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam sebagai satu-satunya teladan.

Mentauhidkan Allah mencakup tauhid dalam hal rububiyah-Nya (perbuatan yang hanya bisa dilakukan oleh Allah –ed),  uluhiyah-Nya (segala bentuk ibadah yang dipersembahkan oleh makhluk Allah –ed), dan dalam nama-nama dan sifat-Nya. Apabila seorang hamba Allah kehilangan salah satu dari ketiga macam tauhid tersebut maka dia belum memurnikan ketaatannya kepada Allah. Ikhlas karena Allah Ada orang yang mudah sekali mengatakan ”aku mencintai Allah”, tetapi apakah dia benar-benar mencintai-Nya? Ciri orang yang mencintai Allah adalah ikhlas berbuat apapun untuk yang dicintainya, sesulit apapun itu. Ikhlas–menurut syari’at—adalah cinta kepada Allah dan hanya menginginkan keridhaan-Nya, sekaligus memurnikan ibadah dari segala bentuk kesyirikan yang secara keseluruhan hanya dipersembahkan untuk-Nya. Nah, tentunya tidak mudah bukan untuk mengatakan ikhlas? Allah subhanahu wata’aala berfirman, yang artinya, ”Padahal mereka tidak diperntahkan, melainkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Q.s. Al Bayyinah : 5) Saudariku… Amalan itu akan diterima hanya jika seseorang beramal dengan ikhlas karena Allah semata. Menjalani Hidup Berbekal Ilmu Dalam Shahih Muslim diriwayatkan sebuah perkataan, yang artinya, ”Barangsiapa yang menginginkan dunia maka dia wajib berilmu, dan barangsiapa yang menginginkan akhirat maka dia wajib berilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka dia wajib berilmu. Begitulah pentingnya ilmu dalam segala bidang kehidupan manusia, untuk urusan dunianya, terlebih urusan akhiratnya. Itulah (ilmu–ed) salah satu syarat agar amal seorang hamba Allah diterima di sisi-Nya. Dengan bekal ilmu, seseorang bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk. Dengan ilmu pula, seorang hamba Allah yang beriman akan terangkat derajatnya di sisi Allah ta`aala. Seseorang akan menjadi terhormat di kalangan manusia, juga karena ilmu. Allah ta’aala berfirman, yang artinya, ”Allah menganugerahkan al-hikmah (pemahaman terhadap al-Quran dan as-Sunnah) kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (Q.s. Al-Baqarah : 269) Ibnu Qutaibah dan para ulama rahimahumullah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-hikmah adalah memperoleh kebenaran kemudian mengamalkannya, dan itulah ilmu yang bermanfaat dengan baik. Ilmu dicari untuk diamalkan. Orang berilmu yang tidak mau mengamalkan ilmunya bagaikan pohon yang lebat namun tiada berbuah. Wah, sayang sekali bukan?! Pengorbanan yang sudah dilakukan selama ini ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa di sisi Allah subhanahu wata`aalana`udzubillahi mindzalik. Saudariku, ilmu seperti apakah yang dimaksud di sini? Tentunya bukanlah sembarang ilmu yang akan dapat mengantarkan kita kepada jalan kebenaran yang hanya satu itu. Bagaimana kriterianya ilmu yang mulia tersebut?

  • § Ilmu tersebut adalah ilmu yang shahih, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, dan sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ’anhum.
  • § Dengan bebekal ilmu itulah, kita akan mampu membedakan antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah) maupun antara yang halal dan yang haram, sehingga kita tidak terjatuh ke dalam perkara-perkara yang memang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam.
  • § Hendaknya ilmu tersebut yang akan memberikan atsar (bekas) di hati kita, berupa bertambahnya rasa takut kepada Allah ta`aala.

Wahai saudariku muslimah… Marilah kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, yang akan membimbing kita menuju jalan keselamatan, sehingga nantinya kita tidak akan tersesat dan mendapat pertolongan dari Allah ta`aala. Meneladani Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam Meneladani berarti tidak menyelisihi (tidak menambahi maupun mengurangi). Meneladani Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di dalam beramal artinya mengikuti sunah-sunahnya, menjalankan perintahnya, dan meninggalkan larangnya. Lalu bagaimana dengan amal ibadah yang yang tidak diajarkan atau tidak ada di zaman Rasulullahshallallahu `alaihi wasallam namun kita tetap mengerjakannya? Amal tersebut tertolak! Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh ’Aisyah radhiyallahu `anhaa, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda, yang artinya, ”Barangsiapa membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah yang tidak ada dasar hukumnya, maka ia tertolak.” Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah (al-Quran), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammadshallallahu `alaihi wasallam. Sejelek-jelek perkara adalah hal-hal yang diada-adakan dalam urusan agama. Setiap hal baru yang diada-adakan dalam urusan agama adalah bid`ah, dan setiap bid`ah adalah sesat. (Riwayat Muslim) Saudariku… Sebagai hamba Allah, pahamilah tujuan hidup kita. Kenalilah jalan menuju padanya. Kita akan menemukan bahwa tujuan itu adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dengan tidak menyekutukannya terhadap suatu apapun. Jalan yang dapat mengantarkan kita ke sana adalah ilmu yang diambil dari kejernihan petunjuk Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Semoga Allah mempertemukan kita di akhir kehidupan yang bahagia. (Ummu Afra & Ummu Salamah) Maraji’ (Referensi):

  1. Syarah Sittu Duror [Terj.] (Syekh ’Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani).
  2. Syarah Al-Waajibaat [Terj.] (Syekh Ibrahim bin asy-Syaikh bin Ahmad al-Khuraishi).
  3. Olahraga Hati (Dr. Ahmad Farid).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: