Mengenal Agama Kita, Islam!

Islam! Hal ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun, sudahkah kita mengenal Islam dengan benar? Di antara manusia ada yang berpendapat bahwa setiap orang berhak memberi definisi sendiri-sendiri tentang Islam. Sehingga sudah tak asing lagi di zaman sekarang bila kita mendengar perkataan “ya, begini Islamku dan terserah kamu nganut Islam yang seperti apa”. Nah, agar kita tidak salah dalam memahami Islam marilah kita belajar dan merenung sejenak sambil bertanya: ”sudah benarkah Islam kita?”.

Apa Itu Islam?

Pengertian tentang Islam dapat kita temui pada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata (yang artinya), ”Pada suatu hari ketika kami sedang bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba saja datang seorang laki-laki, putih bersih pakaiannya, hitam rambutnya, tak tampak bekas-bekas perjalanan pada dirinya, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Sampai akhirnya dia datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan merapatkan lututnya dengan lutut beliau, serta meletakkan tangannya di atas pahanya sendiri, kemudian laki-laki tersebut bertanya kepada beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), ‘Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku tentang Islam!’ Maka Rasulullah menjawab, ‘Islam yaitu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji jika kamu mampu.’ Orang tadi berkata, ‘Kamu benar.’ ‘Umar berkata, ‘Kami sangat heran mendengarnya, dia bertanya dan dia sendiri yang membenarkan.’ Ia (laki-laki itu) bertanya lagi, ‘Kabarkan kepadaku apa itu iman!’ Beliau menjawab, ‘Iman yaitu engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir, serta engkau beriman terhadap takdir Allah–yang baik maupun yang buruk.’ Ia berkata, ‘Kamu benar. Kabarkan kepadaku apa itu ihsan!’ Beliau menjawab, ‘Ihsan yaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihatnya maka sesunguhnya Dia melihatmu.’ Ia bertanya, ‘Kabarkan kepadaku tentang hari kiamat!’ Beliau menjawab,’Tidaklah orang yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.’ Ia berkata, ‘Kalau begitu, kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Beliau menjawab, ‘Apabila seorang budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang tidak berpakaian, dan miskin saling berlomba-lomba mendirikan bangunan.’ Kemudian ia pergi dan aku tetap tinggal beberapa lama, kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, ‘Wahai ‘Umar. tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?’ Aku pun menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya ia adalah Jibril, yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian.’.”

Dari hadits di atas dapat diambil sekumpulan mutiara ilmu, bahwa Islam adalah bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah. Allah Ta’aala berfirman (yang artinya), ”Oleh karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui” (Q.s. Al-Baqarah: 22). Sekutu yang dimaksud adalah mengambil tandingan yang disetarakan dan disamakan dengan Allah, baik berupa berhala, jin, maupun malaikat. Orang yang seperti ini tidak menempatkan hak Allah sesuai dengan kedudukan Allah sebagai ilah.

Menurut penjelasan dari Syekh ‘Utsaimin rahimahullah dari perkataan Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab pada “Penjelasan Tiga Landasan Pokok yang Wajib Diketahui Setiap Muslim”, yaitu bahwa wajib bagi kita untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Beliau rahimahullah mengikutinya dengan menjelaskan hal-hal yang termasuk ibadah. Beliau rahimahullah menyebutkan berbagai jenis ibadah, misalnya islam, iman, dan ihsan, sebagaimana telah dijelaskan pada hadits yang diriwayatkan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu tadi.

Definisi dan Jenis Ibadah

Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup seluruh hal yang dicintai oleh Allah, baik berupa perkataan atau perbuatan, yang tampak ataupun yang tersembunyi.

Ibadah itu luas dan bermacam-macam. Ada ibadah yang batin/tidak tampak dan ada yang zahir/tampak. Contoh ibadah yang zahir adalah menyembelih, shalat, dan puasa. Adapun ibadah yang batin (disebut juga: ibadah hati), misalnya cinta, takut, harap, sabar, dan tawakal.

Terdapat hubungan erat antara ibadah zahir dan ibadah batin. Tidaklah benar seseorang yang berkata “aku sudah beribadah kepada Allah dengan aku takut dan cinta kepada-Nya, sehingga tidak perlu lagi shalat, puasa, dan lain-lain”. Yang perlu kita ingat dalam hal ini adalah bahwa segala sesuatu yang dicintai oleh Allah adalah ibadah. Salah satu hal yang dicintai dan diperintahkan oleh Allah adalah shalat. Dengan demikian, orang yang takut dan cinta kepada Allah akan senantiasa taat dan patuh terhadap perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Hal yang berhubungan dengan hati, berupa ibadah hati, memang sangat penting karena menyangkut keyakinan, dan keyakinan itu sendiri terletak di dalam hati.

Ibadah hati juga tidak dapat disepelekan karena letak iman itu di dalam hati, lisan, dan anggota badan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Ingatlah bahwa dalam tubuh terdapat sepotong daging, apabila ia baik maka baiklah badan itu seluruhnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah badan itu seluruhnya. Ingatlah ia adalah hati”(H.r. Al-Bukhari dan Muslim).

Ada juga orang yang kuat ibadah zahirnya, namun kosong dari ibadah hati. Hal ini terjadi pada orang-orang munafik. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta” (Q.s. Al-Munaafiquun: 1). Ayat ini menunjukkan bahwa penampilan zahir mereka berbeda dengan yang tersembunyi di dalam batin mereka. Akan tetapi, pada pembahasan kali ini, kita akan lebih banyak membicarakan mengenai ibadah zahir.

Pengantar Tentang Ibadah Zahir

Ibadah zahir banyak sekali jenisnya, seperti yang telah disebutkan di atas. Shalat, puasa, dan menyembelih hewan, seluruhnya adalah contoh ibadah zahir yang hanya boleh diperuntukkan kepada Allah Ta’aala. Apabila ada satu saja ibadah yang dipersembahkan kepada selain Allah, maka itulah yang disebut kesyirikan. Allah Ta’aala berfirman (yang artinya), ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Q.s. Adz-Dzaariyaat: 56).

Dosa syirik adalah dosa yang tidak diampuni jika dibawa mati (sebelum mati belum bertobat). Allah Ta’aala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa selain syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang derajatnya di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Q.s. An-Nisaa’: 48 dan 116).

Ibadah Kepada Selain Allah Ta’aala

Salah satu contoh menyembah kepada selain Allah adalah menyembelih hewan yang dipersembahkan kepada selain Allah Ta’aala. Sembelihan itu bisa dipersembahkan untuk jin atau kuburan. Mungkin banyak sekali fenomena seperti ini yang kita temui. Ada orang yang beralasan “lha wong ini juga sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah”. Banyak sekali orang-orang berpendapat seperti ini!

Saudariku, Islam sangatlah mudah, sehingga untuk meminta kepada Allah kita tidak perlu perantara. Yang perlu kita lakukan hanyalah berdoa dan memohon langsung kepada-Nya, tanpa perlu perantara sama sekali.

Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya”(Q.s. Al-An’aam: 162-163).

Saudariku, semoga kita dijauhkan dari segala macam kesyirikan dan menutup pintu-pintu yang menuju kesana. Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam–sang kekasih Allah–pun masih sangat takut dengan kesyirikan. Maka tentunya, hamba Allah yang masih begitu lemah seperti kita ini lebih pantas lagi untuk memohon pertolongan dan ampunan Allah. [Ummu Salamah & Ummu Zahwa]

Maraaji’ (Referensi):

–         Al-Quran dan Terjemahannya. Departemen Agama RI.

–         Rekaman Kajian “Tauhid 1”. Ustadz Firanda Andirja.

–         Syarh Ats-Tsalaatsatil Ushul (Terj.). Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dan Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz.

–         Al-Waajibaat (Terj.). Ibrahim bin Asy-Syaikh bin Ahmad Al-Khuraishi.

–         40 Hadits Pilihan (Matan Hadits Arba’in).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: