Melaknat..!

Termasuk bagian dari kenikmatan yang diberikan Allah kepada hambaNya adalah lisan, yang dengannya kita dapat mengungkapkan apa yang ada dalam diri kita. Mungkin perkara yang berhubungan dengan lisan kadang kala kita anggap sepele atau bahkan kita lupakan sehingga sering kita mendengar seseorang yang mengucapkan sesuatu yang tanpa dia sadari bisa menimbulkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lisan terkadang dapat mengantarkan pemiliknya ke tingkat tertinggi apabila lisan itu digunakan untuk kebaikan atau diarahkan kepada apa yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun lisan dapat juga menjerumuskan pemiliknya ke tingkat yang paling rendah, yaitu apabila lisan itu digunakan untuk perkara yang tidak diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang mukmin senantiasa diperintahkan untuk menjaga lisannya. Dalam QS Al Mukminun:1-3, Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”.

Menjaga lisan termasuk salah satu kesempurnaan Islam seseorang, Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sebaik-baik (kualitas) keislaman kaum mukminin adalah orang yang kaum muslimin merasa aman dari (kejahatan) lisan dan tangannya” (Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Al Kabir dan Ibnu Nashar dalam Ash Shalat).

Sebagai seorang mukmin, hendaknya kita tahu apa saja yang termasuk kejahatan lisan, diantaranya adalah ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), berdusta, menyebarkan rahasia, melaknat, sering mengeluh, berlebih-lebihan dalam berbicara, dan perdebatan dalam hal yang tidak benar. Tulisan kali ini akan membahas tentang melaknat.

Apa itu melaknat ? Melaknat mempunyai dua makna, yaitu celaan dan dijauhkan/terusir dari rahmat Allah. Melaknat bukanlah perangai orang beriman, dari hadits Abdullah bin Mas’ud dari Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela dan bukan orang yang suka melaknat serta bukan orang yang suka bicara jorok dan kotor”(Al Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adabul Mufrad).

Banyak bahaya yang ditimbulkan karena melaknat, antara lain tukang laknat tidaklah termasuk para syuhada dan tidak termasuk orang-orang yang memberi syafaat disisi Allah untuk memintakan ampun bagi seseorang, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula syuhada pada hari kaiamat”(dalam Shahih Muslim dari Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu)

Selain itu, melaknat juga bukanlah sifat para shidiqqun, disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tidak sepantasnya bagi orang yang shidiqq untuk menjadi pelaknat”

Serta jika melaknat orang yang tidak berhak maka laknat itu akan kembali pada yang melaknat. Dalam hadits disebutkan, dari Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya seorang hamba apabila melaknat sesuatu, niscaya laknatnya akan naik ke langit, maka tertutuplah pintu-pintu langit hingga ia tak dapat masuk, maka kembalilah ia terhujam ke bumi, akan tetapi pintu-pintu bumipun tertutup untuknya, maka ia berputar-putar ke kanan dan kiri, dan jika tak menemui jalan keluar (menuju sasarannya), maka ia akan tertuju pada orang yang dilaknat jika memang ia pantas untuk dilaknat, akan tetapi jika tidak pantas, maka ia akan kembali kepada orang yang mengucapkan laknat tadi”(HR Abu Daud).

Sering kita dengar ucapan “dasar batu sial” atau “sial kamu!”, kata-kata ini kedengaran sangat sepele, tapi tahukah kita bahwa kita dilarang untuk mengucapkan atau melaknat sesuatu yang tidak ada dalil syar’i atasnya. Selain itu, kita juga dilarang melaknat angin, binatang, ayam jago, waktu, serta manusia tertentu terutama seorang mukmin karena termasuk dosa besar, dalam Shahih Bukhari, bahwasannya Tsabit bin Adh-Dhahhak berkata, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa melaknat seorang mukmin maka seakan-akan dia membunuhnya”

Lalu apakah ada laknat yang diperbolehkan ? Jawabannya ada, yaitu melaknat pelaku kemaksiatan dari kalangan kaum muslimin tanpa menunjuk pada seseorang tertentu. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang minta disambungkan rambutnya. Selain itu boleh juga melaknat orang kafir dengan menunjuk orang terrtentu yang sudah mati untuk menjelaskan keadaannya pada manusia dan untuk kemashlahatan syari’ah. Adapun jika disana tidak ada maslahat syari’ah maka tidak diperbolehkan karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian mencaci maki orang-orang yang telah mati karena sesungguhnya mereka telah mempersembahkan apa yang telah mereka kerjakan dahulu”(Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha)

Sebagai penutup, seorang mukmin hendaknya tidak akan berkata kecuali yang baik. Perkataannya adalah suatu kejujuran, di samping sebagai perbaikan di antara manusia, amar ma’ruf nahi munkar, doa, dan ketundukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak inginkah kita termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada diantara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin untuknya surga”

Karena itu, marilah kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar melindungi kita dari kesalahan-kesalahan lisan kita serta janganlah kita merasa aman terhadap tipu daya lisan, agar kita tidak binasa dalam neraka jahim dan kerugian.

Maraji’ :

–          Husain al-Awaysisyah, Manajemen Lisan saat Diam saat Bicara

–          Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah, Wahai Muslimah Dengarlah Nasehatku, edisi revisi

–          Imam Nawawi, Tarjamah Riyadhus Shalihin

–          Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid, Dosa-Dosa yang Dianggap Biasa

2 Responses to Melaknat..!

  1. ibnusawaty says:

    maaf… kalo bisa ayat dan haditsnya jangan cum terjemahannya yach… bahasa arabnya juga… Makasih sebelumnya Ustad.

    • Jazakumulloh khairan atas sarannya. Ini terkait dengan bentuk cetaknya, kami tidak menampilkan ayat Alqur’an dengan tulisan arabnya khawatir buletin ini tersia siakan. Seperti itu. Baarokallohu fiik. ‘ala kulli hal, saran antum akan di pertimbangkan insyaaAlloh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: