Meraih Kemuliaan dengan AlQur’an

Alangkah mulia dan agungnya Kitabullah, yang diturunkan kepada Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian diajarkan kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Lihatlah para sahabat. Mereka dengan penuh semangat mengisi hari-harinya dengan membaca Al-Qur’an serta bergegas untuk memahami dan menghafalnya. Mereka berusaha mengikuti seluruh perintah dan menjauhi segala larangan yang tercantum di dalam Kitabullah. Tidaklah mereka menghafalkan satu ayat melainkan mereka berusaha mengamalkannya sebelum menghafal ayat selanjutnya.
Lihatlah betapa sangat cintanya mereka kepada Al-Qur’an. Namun sungguh sayang, semakin jauh dari masa kenabian dan masa para sahabat, semangat itu pun semakin luntur dari dada kaum muslimin. Sekarang ini orang lebih suka membaca koran, majalah-majalah hiburan, melihat TV atau mendengarkan musik. Al-Qur’an dibaca sekali sepekan, atau bahkan hanya ketika bulan Ramadhan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melunakkan hati kita yang keras oleh maksiat, sehingga bergetar jiwa kita karena cinta kepada Kitabullah Al-Karim.
Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Saudariku, sungguh mulia kedudukan Al-Qur’an, sebagai pembimbing menuju jalan yang lurus, Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-A’raf: 52).
Al-Qur’an adalah saksi atas kebaikan serta kejelekan amal seseorang apakah ia akan selamat di akhirat atau mendapat siksa akibat dosa-dosa yang dilakukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Al-Qur’an itu akan menjadi saksi yang meringankanmu atau justru memberatkanmu” (Diriwayatkan oleh Muslim).
Betapa mulianya Al-Qur’an sampai-sampai membacanya saja bernilai pahala, Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS. Faathir: 29).
Saudariku, salah satu bukti kecintaan kita terhadap Al-Qur’an adalah dengan adanya keinginan keras untuk membaca, memahami dan  menghafalkannya. Hal tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk menepis berbagai penyakit dan kotoran yang dapat merusak hati serta ibadah kita kepada Allah Ta’ala. Terlebih pada zaman sekarang yang penuh dengan fitnah syubhat dan syahwat sehingga harus dibendung dengan kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah memuliakan orang yang menjadi Ahlul Qur’an dengan membaca, menghafal, dan mengamalkannya dengan berbagai macam keistimewaan di dunia dan akhirat. Rasulullah memberikan keistimewaan terhadap para penghafal Al-Qur’an melalui sabda beliau yang artinya, “Ahlul Qur’an adalah keluarga dan orang-orang khusus di sisi Allah” (diriwayatkan oleh Nasa’i dan Ibnu Majah). Ahlul Qur’an adalah orang-orang terdekat dari Allah, karena keagungan Al-Qur’an yang mereka miliki. Bagaimana tidak? Mereka mempelajari ilmu yang paling agung, ilmu yang paling mulia dan paling terhormat kedudukannya. Keutamaan yang lain seperti tercantum sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam yang artinya,
”Yang menjadi imam sholat di antara sekelompok kaum muslimin adalah yang paling qori’ (paling banyak hafalannya) terhadap kitabullah.” (diriwayatkan oleh Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah (dalam keadaan terpaksa) menikahkan seorang wanita dengan salah seorang sahabat, dengan mahar hafalan Qur’an sahabat tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan panji perang dalam jihad kepada orang yang paling banyak hafalannya.
Ibnu ‘Umar menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
Hasad hanya dibolehkan terhadap dua orang: Orang yang diberikan hafalan AlQur’an oleh Allah, lalu ia selalu membacanya di tengah malam dan di siang hari. Dan orang yang diberikan harta oleh Allah, lalu siang dan malam ia selalu menginfakkannya siang dan malam”.
Dan masih banyak sekali keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh bagi pembaca dan penghafal Al-Qur’an.
Adab Membaca Al-Qur’an

Sudah sepantasnya kita memiliki adab yang baik terhadap Al-Qur’an karena kedudukan Al-Qur’an yang begitu mulia. Diantara adab tersebut yaitu:
1. Membaca ta’awudz, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya,
Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk” (QS. An Nahl: 98).
2. Membersihkan mulut dengan bersiwak.
3. Membacanya dalam keadaan suci.
4. Memilih tempat yang bersih.
5. Menghadap kiblat dengan duduk penuh ketenangan dan konsentrasi sambil menundukkan kepala sebagai tanda kerendahan hati dan kesopanan.
6. Bersikap tenang dan khusyu’.
7. Membacanya dengan tartil (tidak tergesa-gesa).
8. Berdo’a ketika bertemu dengan ayat-ayat adzab dan rahmat.
9. Sujud tilawah ketika bertemu dengan ayat sajdah.

Namun perlu diperhatikan, terdapat sebuah kesalahan yang terlanjur banyak dilakukan banyak kaum muslimin yaitu mengakhiri bacaan Al-Qur’an dengan “shadaqallahul ‘azhim”, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah melakukan hal tersebut. Sehingga perkara tersebut termasuk perkara baru yang diada-adakan dalam agama, dan ini terlarang. Terdapat banyak dalil yang menjelaskan bahwa Rasulullah dan para sahabat tidak membaca bacaan khusus setelah selesai membaca Al-Qur’an.
Kiat Tadabbur Al-Qur’an

Saudariku, ada beberapa kiat untuk bisa menghafal Al-Qur’an dengan mudah. Kiat pertama dan paling utama adalah bertawakkal kepada Allah. Semakin kuat tawakkal seseorang, semakin kuat imannya terhadap Allah.
Ke dua, mengikhlaskan niat dan memperbaiki ketulusan kepada-Nya.
Ke tiga, membacanya dengan tartil, maksudnya dengan perlahan sehingga huruf-huruf dan harokatnya jelas, Allah berfirman yang artinya:
”…dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al Muzzammil: 4).
Ke empat, melafadzkan Al-Qur’an dengan benar atau dengan tajwid.
Ke lima, merenungi dan memikirkan arti ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca.
Ke enam, sabar dan tidak tergesa-gesa.
Kiat khusus dalam memudahkan menghafal adalah membatasi jumlah hafalan setiap hari (tidak nambah sebelum hafal), menghafal melalui satu mushaf saja selama masa penghafalan, tidak berpindah kepada surat berikutnya sebelum benar-benar hafal, mengecek hafalan kepada orang lain secara teratur dan kontinyu, memberikan perhatian khusus terhadap ayat-ayat yang sama lafadznya. Terakhir, membaca dengan baik sebelum mulai menghafal.
Ketahuilah saudariku, ada beberapa penyebab mudahnya hilang hafalan, diantaranya adalah maksiat dan dosa, sering menunda sholat, memutus tali silaturrahiim, dusta, suka menyakiti orang lain, dan lain sebagainya.
Saudariku, setelah kita mengetahui berbagai keutamaan dan kedudukan Al-Qur’an dan adab-adab terhadapnya, marilah kita perbaiki kembali niat dan usaha kita dalam mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an. Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk membaca, memahami dan menghafalkan Al-Qur’an.
[Ummu Sufyan]
Referensi:
1. Keajaiban Belajar Al-Qur’an karya Sholih bin Fauzan Al Fauzan Haya Ar Rasyid, Al Qowam
2. Adab penuntut ilmu dan penghafal Al-Qur’an karya Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf bin Hizam An Nawawi Asy-Syafi’i, Maktabah An Nuur
3. Ensiklopedi Muslim “Minhajul Muslim”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: