Penyimpangan Terhadap Manhaj Rasulullah

Wajibnya mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Wahai Saudariku -semoga Allah merahmatimu- ketahuilah hanya ada satu jalan yang akan mengantarkanmu kepada kenikmatan Islam karena Allah telah menetapkan keberuntungan dan kemenangan hanya untuk satu golongan saja. Allah berfirman, yang artinya,

“Dan barangsiapa yang menjadikan Allah dan rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya golongan (pengikut agama) Allah mereka itulah yang mendapat kemenangan.”(QS. Al Maidah: 56)

Sebagaimana juga firman Allah dalam QS. Ar Ruum: 31-32 dan masih banyak ayat-ayat lain dalam Al Qur’an. Terpecahnya umat menjadi beberapa golongan atau kelompok adalah sesuatu yang sangat dicela atau dibenci, sekalipun ini adalah sunnatullah yang pasti terjadi.

Lalu jalan mana yang harus kita tempuh agar kita tidak terjebak pada kelompok-kelompok yang membuat perpecahan pada umat Islam, maka simaklah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

“Dan sesungguhnya siapa saja orang-orang yang hidup di antara kalian sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kalian pegang sunahku dan sunah para khalifah yang mendapat petunjuk, peganglah dia dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dengan perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah.” (shahih, HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan lain-lain)

Saudariku, cukuplah Al Qur’an dan hadits serta petunjuk khulafaur rasyidin dan para sahabat sebagai pegangan kita, karena sesungguhnya apabila seseorang mencoba menyempurnakan agama ini atau menghiasinya dengan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka sesungguhnya dia telah membelok ke jalan-jalan yang menyimpang, bahkan terseret ke lembah-lembah kebinasaan.

Penyimpangan terhadap manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ketahuilah Saudariku, bentuk berpaling, penyelisihan dan penyimpangan terhadap manhaj (jalan) Rasulullah dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Kekafiran terhadap agama Islam yang dilakukan oleh orang-orang kafir
  2. Penyimpangan kaum muslimin terhadap manhaj Rasulullah yang terdiri dari dua macam, yaitu :
    1. Tafrith, yaitu melalaikan, melanggar atau menyia-nyiakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang menyakiti para nabi dan bahkan membunuh mereka.
    2. Ifrath, yaitu berlebih-lebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani yang berlebihan menjunjung nabi mereka hingga terjerumus pada menyembah nabi mereka.

Orang-orang yang tafrith akan terjerumus untuk menyepelekan ibadah sekalipun memiliki ilmu sedangkan orang-orang yang ifrath akan terjerumus untuk beribadah berlebihan meski tidak memiliki ilmu. Kedua bentuk penyimpangan tersebut memicu adanya bid’ah, yaitu sesuatu yang diada-adakan dalam agama namun tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh bid’ah itu menyesatkan dan memecah-belah umat hingga menjadi beberapa golongan. Inilah yang menyebabkan kaum muslimin menjadi lemah. Inilah musibah agama yang menimpa kaum muslimin.

Membantah orang yang menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam adalah amar ma’ruf nahi munkar

Sungguh kebanyakan golongan-golongan dalam Islam mengubur kritikan terhadap bid’ah dan memadamkan semangat amar ma’ruf nahi munkar dengan alasan menutupi kelemahan kaum muslimin. Mereka berusaha menggabungkan seluruh golongan demi menghimpun kesatuan guna menghadapi orang-orang kafir. Mereka menganggap bahwa memperingatkan umat dari bahaya bid’ah hanya akan memecah belah umat. Mereka pun mentoleransi dan memaafkan bid’ah dan kesalahan yang ada serta bersepakat untuk bersatu.

Ketahuilah, kita tidak akan mungkin menyatukan umat dengan cara yang demikian. Bagaimana mungkin kita menyatukan kebenaran dengan kebatilan?? Bagaimana mungkin menyatukan umat di atas prinsip masing-masing golongan yang berbeda satu sama lain?? Sekalipun bersatu, yang terjadi hanyalah persatuan semu akibat hati yang tercerai-berai oleh berbedanya prinsip.

Maka Saudariku, janganlah berhenti untuk memperingatkan umat dari bid’ah dan penyimpangan terhadap manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena hanyalah dengan kembali pada kebenaran, umat ini akan mendapat pertolongan. Bukan dengan banyaknya jumlah umat namun kekuatannya bagaikan buih di lautan.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Adapun dalam menghadapi orang kafir, Syaikh Abdul Malik Ramadhani dalam Sittu Duror menjelaskan bahwa musuh akan masuk ke dalam rumah jika pintu dan jendela-jendelanya terbuka atau rapuh. Dan golongan-golongan yang menyimpang dari manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jendela tempat masuknya orang-orang kafir. Ada di antara golongan-golongan tersebut yang membawa pemikiran orang-orang kafir dan ada pula yang sengaja membantu orang-orang kafir memerangi darah dan harta kaum muslimin. Maka berjihad terhadap orang kafir baik melalui jihad di medan perang maupun dengan pemikiran, tidak akan berarti tanpa mengembalikan kaum muslimin pada manhaj yang lurus.

Bersikap tegas terhadap ahlu bid’ah bukan berarti loyal terhadap orang kafir

Ketahuilah bahwa hukum asal dalam amar ma’ruf nahi munkar adalah bersikap lemah lembut dan bersikap lunak.

“Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan peringatan yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An Nahl: 125)

Namun apabila kelembutan tidak bermanfaat, di mana ahlu (pembuat dan pelaku) bid’ah hanya akan terus-menerus dalam bid’ahnya serta tidak peduli dengan peringatan dan nasehat, maka wajib untuk bertindak tegas dan keras terhadap ahlu bid’ah. Bahkan terkadang seorang mukmin harus lebih keras bersikap (terhadap muslim lain yang melakukan bid’ah) dibanding mengingkari musuhnya yaitu orang kafir. Sebagaimana Nabi Musa bersikap lemah lembut terhadap Fir’aun namun bersikap keras terhadap saudaranya Harun. Namun sikap ini bukanlah berarti pembuktian keloyalan terhadap orang-orang kafir.

Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu’ Fatawa, “Seorang mukmin dan mukmin lain bagaikan dua tangan, masing-masing saling mencuci. Kadang-kadang ada suatu kotoran yang tidak bisa dibersihkan kecuali dengan gosokan yang keras (sedikit kekerasan atau paksaan), namun hasilnya adalah bersih dan indah.”

Bersikap tegas terhadap ahlu bid’ah bukanlah semata-mata karena kebencian terhadap bid’ah. Sungguh bid’ah menghancurkan Islam dari tubuh kaum muslimin sendiri. Namun sudah dipahami bahwa pelakunya adalah bagian dari kaum muslimin. Karena kasih sayang terhadap mereka-lah, sudah seharusnya kita bersikap tegas agar mereka kembali pada manhaj yang lurus, agar mereka menguatkan Islam di atas kebenaran bersama kaum muslimin seluruhnya.

[Ummu Maryam dan Ummu ‘Abdirrahman]

Diringkas dari Sittu Durror min Ushuli Ahlil Atsar [Terj.] karya Syaikh Abdul Malik Ramdhani

One Response to Penyimpangan Terhadap Manhaj Rasulullah

  1. Pingback: Penyimpangan Terhadap Manhaj Rasulullah « Mutia's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: