Ikhlaskanlah Hanya untuk-Nya

Apakah ikhlas itu?

Kita pasti tidak asing lagi mendengar kata ikhlas, namun apakah masing-masing dari kita sudah mengetahui defnisi ikhlas itu sendiri?

Kata ikhlas berasal dari bahasa Arab yaitu kata khalasha yakni menjadi bersih dan hilang segala noda darinya. Ikhlas juga bermakna meninggalkan riya’ (ingin dilihat orang lain dalam beramal -ed), sum’ah (ingin didengar oleh orang lain dalam beramal –ed) dan ujub (membanggakan amalannya sendiri). Hakikat ikhlas dalam kehidupan sehari-hari adalah meniatkan amalannya untuk bertaqarub (mendekatkan diri) kepada Allah semata. Ulama yang lain mendefinisikan ikhlas adalah seimbangnya amalan seorang hamba antara lahir dengan batinnya. Ikhlas sangat dibutuhkan oleh seluruh kaum muslim pada kehidupan sehari hari, karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal oleh Allah Ta’ala. Sudahkah definisi tersebut kita realisasikan?

Saudariku yang semoga Allah menjaga kalian, ketahuilah bahwasanya ikhlas merupakan salah satu syarat kalimat tauhid (yaitu laa ilaaha illallah –ed) seseorang diterima oleh Allah. Hal ini seperti dalam firman Allah Ta’ala pada QS. Az-Zumar: 3

”Ingatlah kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)”

Pada ayat tersebut terkandung dalil syarat ikhlas yaitu kata khalish yang maksudnya adalah bersih dari syirik. Di dalam ayat tersebut terkandung penjelasan bahwa ibadah tidak akan diterima dan tidak bermanfaat jika tidak ada keikhlasan yang merupakan lawan dari kesyirikan. Keikhlasan tersebut harus dipenuhi oleh seorang hamba, karena ikhlas merupakan syarat. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi maka yang disyaratkan pun menjadi tidak ada. Seseorang yang mentauhidkan Allah dengan ikhlas juga dijanjikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam akan mendapatkan syafaatnya, mendapatkan keridhaan Allah, dikabulkan seluruh permintaannya, serta dibukakan pintu-pintu langit sehingga Allah bisa melihat seorang yang mengucapkan kalimat tauhid tersebut. Maka seorang muslimah yang baik tidak hanya menempatkan tauhid pada lisan semata tanpa diiringi dengan keikhlasan dalam hatinya, juga tanpa dibarengi dengan amal lahiriah yang menyertainya. Marilah Saudariku tetapkanlah pada lisanmu ucapan tauhid yang benar dengan disertai ilmu dan keikhlasan serta pengamalan sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya, jadikan diri kita sebagai seorang yang selalu bersyukur karena berbagai nikmat telah diberikan-Nya kepada kita semua.

Kalimat tertinggi yang sering terlupa

Sebagai seorang muslimah tentunya mengetahui tujuan penciptaan dirinya dan penciptaan seluruh makhluk di muka bumi ini. Allah Ta’ala berfirman,

Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan manusia melainkan supaya mereka (hanyalah) menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu menyatakan bahwa makna beribadah/menyembah adalah perintah untuk bertauhid. Para ulama menjelaskan tauhid adalah keyakinan tentang keesaan Allah dalam rububiyah-Nya, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya serta menetapkan nama-nama dan sifat kesempurnaan bagi-Nya.

Kalimat tauhid atau lafadznya berupa ”laa ilaha illallah” adalah cabang iman yang paling tinggi, serta memiliki banyak sekali keutamaan. Salah satu keutamaan tersebut adalah jaminan Allah untuk memasukan para ahli tauhid ke dalam surga. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda

Barang siapa bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya dan bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh ciptaan-Nya, dan bersaksi bahwa surga benar adanya dan neraka benar adanya, maka Allah pasti memasukannya ke dalam surga bagaimanapun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud hadits tersebut barang siapa yang konsekuen dengan syahadat, baik dalam sisi ilmu maupun amal, maka dia mendapatkan jaminan masuk surga. Adapun tingkat keberadaannya di surga tergantung dengan amalnya. Tidak terkecuali orang yang banyak berbuat dosa -yang dosa tersebut di bawah dosa syirik- maka akan diampuni oleh Allah dan akan dimasukan ke dalam surga-Nya.

Dakwahkanlah tauhid kepada saudaramu..

Jika kita telah mengetahui kebaikan dan keutamaan dari nilai tauhid, hendaklah kita mendakwahkannya (menyebarkannya) kepada yang lain. Sebagaimana yang Rasullullah shallallahu ’alaihi wa sallam sabdakan,

Tidak  sempurna iman seseorang sampai dia menginginkan untuk saudaranya apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di samping itu, mendakwahkan tauhid juga merupakan tanda kesempurnaan tauhid seseorang.

Nabi Muhammad mendakwahkan tauhid selama tiga belas tahun lamanya, seluruh nabi dan rasul pun juga menyerukan kalimat tauhid sebelum menyebarkan syariat yang lainnya. Rasulullah pun menyerukan kepada para sahabatnya untuk mendakwahkan tauhid. Seperti ketika beliau mengutus Muadz bin Jabal radhiyallahu ’anhu, ”Sungguh, kamu akan mendatangi kaum ahli kitab, maka hendaklah pertama kali dakwah yang kamu sampaikan adalah syahadat la ilaha illallah. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu dakwahkan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sholat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan itu, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan jagalah dirimu dari do’a orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tiada tabir penghalang pun antara doanya dan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut membuktikan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada para sahabatnya untuk berdakwah kepada tauhid. Maka sebagai seorang yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam hendaklah mengikuti jalan beliau, semangat dan gencar mendakwahkan tauhid serta memberantas kesyirikan.

Ikhlaskan semua hanya untuk-Nya

Setelah kita mengetahui urgensi ikhlas terutama dalam bertauhid dan beramal, maka hendaklah kita mengamalkannya. Menanamkan segala bentuk kebaikan disertai keikhlasan, hanya mengarapkan wajah Allah dan selalu mengikuti rasul-Nya untuk mencari bekal di kehidupan yang lebih kekal nan abadi di sana.

Sungguh sangat disayangkan jika seseorang mengggantungkan cita-cita dan harapan hidupnya hanya untuk dunia dan segala isinya. Tidakkah dirimu tahu bahwa semua itu hanyalah fana dan sementara?  Tidakkah kau mengetahui kehidupan yang kekal dan abadi hanyalah di akhirat sana? Sudahkah kita mempersiapkannya? Pernahkah terlintas dalam benak kita, di manakah tempat akhir kita? Surga yang indah dengan segala isinya ataukah neraka dengan api yang sangat panas membara yang akan menjadi tempat akhir kehidupan kita?

[Ummul Husain]

Maraji’:

Hal-hal yang wajib diketahui Set2iap Muslim, Ibrahim bin As-Syaikh Shalih bin Ahmad al-Khuraishi
Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At-Tamimi
Ikhlas Cahaya Kehidupan Hati, Sa’id bin ’Ali bin Wahf Al-Qathani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: