Haidnya Seorang Wanita

Saudariku muslimah…

Maha Besar Allah, Dia-lah Sebaik-baik Pencipta, selalu meletakkan hikmah pada makhluk yang diciptakan-Nya. Salah satu hikmah besar dari ciptaan-Nya adalah Allah telah menjadikan suatu proses pengeluaran darah pada tubuh anak-anak perempuan Adam, yang mana pada wanita hamil, darah tersebut akan menjadi zat makanan yang tidak perlu dikunyah dan dicerna, yang disalurkan melalui tali pusar untuk bayi di dalam kandungan. Kemudian setelah melahirkan, dengan izin Allah, darah tersebut berubah menjadi air susu ibu, yang sangat bermanfaat bagi sang anak. Maka ketika seorang wanita tidak dalam kondisi hamil atau menyusui, darah tersebut akan keluar pada waktu-waktu tertentu yang merupakan siklus bulanan, atau lebih dikenal dengan istilah “haid”. Saudariku, marilah kita mengilmui apa yang telah Allah tetapkan untuk setiap wanita ciptaan-Nya ini.

Hakikat haid

Haid menurut bahasa artinya adalah sesuatu yang mengalir. Sedangkan menurut syari’at, haid adalah darah yang keluar dari dalam rahim seorang wanita pada waktu–waktu tertentu yang sudah dimaklumi, bukan karena sakit ataupun luka. Jadi, haid adalah darah yang keluar secara normal yang berbeda-beda antara wanita yang satu dengan yang lainnya dikarenakan kondisi fisik, psikis dan lingkungan yang berbeda.

Masa Haid

Saudariku, ada beberapa pendapat di kalangan ulama untuk masalah ini. Namun, pendapat yang paling kuat dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah masa haid tidak mempunyai batasan berapa hari minimal atau maksimalnya. Inilah pendapat yang benar menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah.

  • Dalil pertama, dari Al-Qur’an

”Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Pada ayat tersebut yang Allah jadikan sebagai batas akhir larangan adalah suci, bukan penyebutan satu hari, tiga hari, tujuh hari atau lima belas hari. Hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi illat (alasan) seorang wanita itu dihukumi haid adalah ada atau tidaknya haid tersebut pada wanita tersebut. Maka jika terdapat haid pada wanita itu berlakulah hukum haid untuknya, sedangkan jika tidak ada haid maka wanita tersebut telah terlepas dari hukum-hukum haid dan kembali dikenai kewajiban-kewajiban (misal: shalat, puasa Ramadhan –ed) yang harus ia lakukan.

  • Dalil kedua, dari As-Sunnah

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi bersabda kepada ’Aisyah yang mendapatkan haid ketika dalam keadaan ihram untuk umrah, “Lakukanlah apa yang  dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di Ka’bah sebelum kamu suci”. Kata ’Aisyah, “Setelah masuk hari raya kurban, barulah aku suci”.

Dalam Shahih Al Bukhari, diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda kepada ’Aisyah,“Tunggulah. Jika kamu suci, maka keluarlah ke Tan’im.” (Tan’im adalah tanah halal yang paling dekat dari Ka’bah sebagai miqat untuk memulai ihram umrah bagi penduduk Mekah dan orang lain yang umrah dari Mekah –ed).

Dari hadits ini, dapat kita ketahui bahwa yang dijadikan Nabi sebagai batas akhir larangan adalah suci, bukan suatu masa tertentu. Ini menunjukkan bahwa hukum tersebut berkaitan dengan ada dan tidaknya haid.

Tanda-tanda suci dari haid

Kita dapat mengetahuinya melalui dua keadaan, yaitu :

  1. Keluarnya  air berwarna putih seperti air kapur yang mengikuti haid. Namun, terkadang bukan dengan warna putih, dan perbedaan ini disebabkan oleh keadaan wanita masing-masing.
  2. Kering, yaitu ketika dimasukan potongan kain/kapas ke dalam lubang kemaluan kemudian dikeluarkan maka kain akan tetap dalam keadaan kering tidak ada sesuatupun, tidak ada darah, warna keruh atau kuning.

Saudariku, jika engkau telah mendapati keadaan ini, segeralah engkau mandi, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Kemudian kerjakanlah kembali apa yang telah diwajibkan oleh Allah atasmu, janganlah menunda-nundanya, kecuali jika ada udzur syar’i yang menghalangimu. Karena dengan menundanya berarti kita juga menunda kewajiban kita kepada Allah yang seharusnya kita tunaikan.

Amalan ketika haid

Saudariku, ada beberapa hal yang sepatutnya kita ketahui dan kita perhatikan ketika haid. Di antaranya adalah amalan-amalan yang tidak diperbolehkan ataupun yang diperbolehkan untuk diamalkan ketika haid.

1. Shalat dan Puasa

Seorang wanita yang sedang haid diharamkan melaksanakan shalat dan puasa baik wajib maupun sunnah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah, dari Abu Said Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda, “Bukankah wanita itu jika datang haid tidak boleh shalat dan berpuasa.” (Mutafaqun’alaih). Kemudian ketika telah suci dari haidnya, maka wajib atasnya untuk mengqadha (mengganti) puasa wajib yang ditinggalkannya dan tidak mengqadha shalat. Seperti yang disampaikan oleh Ummul Mu’minin, ‘Aisyah, “Ketika kami mengalami haid, kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (Mutafaqun’alaih). Ini merupakan salah satu keringanan untuk wanita, karena shalat adalah ibadah yang paling banyak dilakukan, maka kewajiban mengqadha’nya akan memberatkan kaum wanita. Wallahu a’lam.

2. Thawaf

Seorang wanita haid diharamkan melakukan thawaf di Ka’bah, baik yang wajib maupun sunnah, dan tidak sah thawafnya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ’Aisyah, “Lakukanlah apa yang dilakukan oleh jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di Ka’bah sebelum kamu suci.” (Mutafaqun ’alaih)

3. Jima’ (hubungan badan)

Bagi seorang suami diharamkan melakukan jima’ dengan isterinya yang sedang haid, dan diharamkan bagi sang isteri memberi kesempatan kepada suaminya melakukan hal tersebut. Dalilnya, firman Allah Ta ‘ala,  “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran’: Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktuu haid dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci…” (QS. Al-Baqarah: 222)

Dalam hadits shahih, Rasulullah bersabda “Lakukan apa saja, kecuali nikah (yakni: bersenggama).” (HR. Muslim)

4. Menyentuh mushaf Al-Qur’an

Seorang wanita haid tidak diperkenankan menyentuh mushaf Al-Qur’an secara langsung tanpa pembatas. Allah berfirman dalam QS. Al-Waqi’ah: 79, ”Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh ’Amru Ibn Hazm, Rasulullah bersabda, ”Tidak menyentuh mushaf kecuali orang yang suci.” (HR. An-Nasai)

Sedangkan apakah dibolehkan bagi wanita haid untuk membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf, terdapat perbedaan pendapat dalam masalah ini. Untuk lebih berhati-hati, sebaiknya kita tidak membaca Al-Qur’an kecuali dalam keadaan darurat, misalnya ketika kita takut hafalan Al-Qur’an kita terlupa, dan membacanya tanpa menyentuh mushaf atau menggunakan Al-Qur’an yang terdapat terjemahannya, maka ini lebih berhati-hati. Wa Allahu a’lam.

5. Tinggal (masuk dan duduk berdiam -ed) di dalam masjid

Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama, namun Syaikh Albani memperbolehkan seorang wanita haid untuk masuk dan duduk di masjid, dengan dalil hadits yang menceritakan tentang seorang budak perempuan hitam yang tinggal di masjid, ’Aisyah berkata, ”Perempuan itu mempunyai kemah atau bilik di masjid…” Tentu wanita tersebut juga mengalami haid sebagaimana wanita-wanita yang lainnya, tetapi Rasulullah tidak memerintahkannya untuk keluar dari masjid. Serta sabda Rasulullah, ”Maha Suci Allah! Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.” Maka diperbolehkan bagi muslimah untuk masuk dan duduk di dalam masjid untuk menuntut ilmu atau untuk keperluan lainnya (namun hendaknya dengan berhati-hati jangan sampai darah haid kita tembus sehingga mengotori masjid –ed).

Bagaimana dengan obat pencegah haid ?

Syaikh Al-Utsaimin tidak mengatakan itu haram, hanya saja beliau tidak menganjurkannya. Hendaknya para wanita ridha dalam menerima takdir Allah. Maka para wanita hendaknya bersabar dan mencari pahala dari Allah ketika haid. Adapun bagi wanita yang memakai obat pencegah haid, apabila tidak membahayakan dirinya ditinjau dari sisi medis, maka tidaklah mengapa dengan syarat ia tetap meminta izin kepada suaminya. Namun, obat-obat semacam itu membahayakan wanita, karena haid merupakan darah yang keluar secara alami dan apabila dicegah pada waktunya maka akan membahayakan tubuhnya. Kemudian perlu diperhatikan pula, obat-obat semacam ini menjadikan siklus haid menjadi tidak teratur, akibatnya mereka akan bimbang dan ragu (apakah mereka telah suci atau belum -red) ketika shalat atau saat bersenggama dengan suaminya. (Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 1/304, lihat pula fatwa Lajnah Da’imah 5/400)

Semangat Ketika Haid

Sebagian muslimah mungkin merasa lemas dan tidak bersemangat ketika haid. Hal itu mungkin dikarenakan pada saat itu seorang wanita mengeluarkan cairan lebih banyak yang membuat fisiknya menjadi lemas sehingga berakibat kepada kondisi jiwa yang sedikit terkurangi dari ibadah-ibadah wajib yang diharamkan bagi wanita haid. Nah, di sinilah setan memperoleh kesempatan untuk menggoda mereka. Maka Saudariku, tetaplah bersemangat walaupun engkau dalam kondisi haid. Cobalah amalkan tips berikut ini:

  1. Tetaplah berdzikir kepada Allah.
  2. Terimalah fitrah wanita ini dengan ikhlas, tidak menyesalinya dan tidak berburuk sangka.
  3. Masa haid bukanlah masa libur dari ibadah, karena sesungguhnya dalam sehari-semalam itu ada banyak amalan yang masih boleh dikerjakan oleh wanita haid, misalnya: doa sehari-hari.
  4. Menyibukan diri dengan ketaatan dan menjauhkan diri dari kemaksiatan.
  5. Menghadiri majelis-majelis ilmu
  6. Membaca buku agama
  7. Berkumpul dengan orang yang shalih dan bersemangat.
  8. Mengisi waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat untuk akhirat dan jauhilah hal-hal yang tidak bermanfaat.
  9. Tetaplah tersenyum dan semangat !

Saudariku muslimah, inilah yang telah Allah tetapkan untuk kaum Hawa. Maha Suci Allah, Pencipta seluruh alam, tiada yang diciptakan-Nya kecuali ada hikmah di dalamnya. Waallahu a’lam bishshawab.

[Ummu Masyithoh]

Maraji’:

–          Tanbihât ’ala Ahkamin Takhtashshu bil Mu’minât, Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan.

–          Darah Kebiasaan Wanita [terj.], Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, E-book Maktabah Ummu Salma Al-Atsariyah.

–          Wirid Wanita Haid, Abu Umar Abdillah, Wafa Press.

8 Responses to Haidnya Seorang Wanita

  1. Tanya says:

    Kami pernah ditanya (kami tidak tahu jawabannya) bahwa Haid dan Nifas memiliki satu persamaan dalam hukum. Apakah itu? Jazakunnallah khaira..

  2. mittag says:

    Saya pernah membaca pembahasan itu di buletin Zuhairah yang membahas tentang Nifas. Mungkin yang edisi itu belum ditampilkan.

  3. Hamba Allaah says:

    Hukumnya sama seperti darah haid berdasarkan ijma’ di kalangan ulama. Ijma’ ini dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Asy-Syarh Al-Kabir (1/157) dan Asy-Syirbini dalam Mughni Al-Muhtaj (1/120). Hanya saja ada beberapa perkara yang dikecualikan oleh dalil dari ijma’ ini, yang menjadi letak perbedaan antara haid dan nifas.

    Setau kami darah haid dan nifas memang memiliki persamaan dalam hukumnya dan itu sangat banyak sekali. Contohnya ketika seorang wanita mengalami haid dan nifas maka wanita tersebut wajib mandi besar disaat haid atau nifas telah selesai. Bahkan definisi dari haid dan nifas pun ada yang sama.

    – Pengertian Haid > Darah yang keluar dari rahim ketika seorang wanita sudah mencapai usia baligh dst.
    – Pengertian Nifas > Mengalirnya darah dari rahim wanita karena melairkan.

    Persamaannya adalah sama2 keluar dari rahim, jika haid bukan merupakan darah yang dihasilkan karena melahirkan, maka nifas diakibatkan oleh adanya melahirkan. Dan ini merupakan perbedaannya.

    Mohon koreksianya jika ada kesalahan.

  4. Tanya says:

    @ Hamba Allah
    Jazakumullah khaira. Lama tidak berkunjung ke blog ini sehingga tidak baca jawaban di atas.
    Sebenarnya, saya salah tulis pertanyaan, mungkin ketika itu terburu-buru mengetik.
    Seharusnya, pertanyaannya adalah:
    Haid dan nifas memilki kesamaan dalam hukum, kecuali dalam satu masalah hukum. Apa itu?

    Namun, alhamdulillah saya telah mendapatkan jawabannya, yaitu dalam masalah talak.

    Jazakunnallah khaira

  5. Luthfia says:

    “Keluarnya air berwarna putih seperti air kapur yang mengikuti haid. Namun, terkadang bukan dengan warna putih, dan perbedaan ini disebabkan oleh keadaan wanita masing-masing.”

    Afwan, ana mw tanya. Apakah yang dimaksud dalam kalimat tsb bahwa lendir itu tidak selalu berwarna putih? Soalnya, ana ketika darah haid sudah tidak keluar muncul lendir berwarna kuning. Derajat kekuningan ini semakin lama semakin berkurang hingga akhirnya ana dapatkan lendir yang benar2 berwarna putih. Yang ingin ana tanyakan, kapankah waktu suci ana ? saat keluar lendir berwarna kuning ? atau yang putih?
    Keluarnya lendir putih ini bisa berselang lama dari berhentinya darah, bisa sampai 4-5 hari. Mohon pencerahan. Jazakumullah…

    • Apakah keluarnya cairan kuning ini langsung bersambung dengan keluarnya darah? Jika iya, maka cairan kuning tersebut masih dianggap haid dan tanda suci Ukhtiy adalah saat keluar cairan putih tersebut. Sebagaimana perkataan Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau ditanya oleh seorang shahabiyah yang membawa sampel kapas (yang digunakan untuk mengecek apakah masih ada bekas haid) yang ternyata masih ada cairan kuning, beliau berkata, “Janganlah kalian tergesa-gesa sehingga melihat lendir putih.” Maksudnya, cairan putih sebagai tanda suci dari haid.
      Akan tetapi, jika keluarnya cairan kuning ini diselingi oleh keringnya jalan keluarnya darah, maka keringnya jalan darah ini sebagai tanda suci, dan cairan kuning tersebut tidak perlu dianggap. Hal ini sebagaimana riwayat dari Ummu Athiyah radhiyalahu ‘anha, “Kami tidak menganggap apa-apa darah yang berwarna kuning atau keruh sesudah masa suci.”
      Ada baiknya jika Ukhtiy mengenali kebiasaan haid dan tanda suci yang biasa terjadi pada Anti (apakah biasanya dengan keluarnya cairan putih atau keringnya jalan darah). Wallahu a’lam.

  6. hamba Allah says:

    bismillah… assalamu’alaikum

    ustadz saya memiliki kebiasaan haidh min.6 hari maks. 13 hr, dua bulan yang lalu saya, berturut2 haidh saya selama 6 hari, bulan ini pas hari ke enam menjelang maghrib yang klwr mash keruh2 agak samar, ba’da maghrib pas saya cek kapasnya ada bekas darah warna merah agak hitam tapi sangat tipis/ tdk lengket seperti kebiasaan kalau haidh mw selesai, tapi ba’da isya klo tdk salah klwr lagi lendir keruh, sampai menjelang subuh (hari ke 7)saya dapati darah sdh kering tapi krn nggak yakin saya lgs cek ulang ternyata msh ada lendir keruh sedikit, ba’da subuh ada lendir dg sedikit darah agak tipis, siang harinya klwr lendir kuning2, sampai malam hari, dan menjelang subuh (hari ke 8)kembali saya dapati lendir kuning itu sudah makin menipis, kelihatan samar sekali dan saya dapati kering sebentar, saya lalu mandi, dan sholat, ternyata di pagi hari klwr lg sedikit lendir merah kecoklatan, saya lalu putuskan bahwa masih haidh, sore hari ba’da ashar saya dapati kering lagi, dan ada sedikiit gumpalan seperti keputihan kira2 hanya setitik, tapi saya mau pastikan dengan cek dalam, ternyata kapasnya berwarna merah terang, dan saya yakin ini bukan darah haidh, tapi kemungkinan pas cek darah itu ada selaput yg luka sedikit, saya segera mandi dan menqodho sholat dhuhur sekalian sholat ashar, tapi setelah itu saya diliputi ragu2, sampai selesai sholat isya, saya akhirnya coba cek lagi, dan memang dominan kering, tapi saya jg lihat ada sedikit lendir kuning terang tapi samar sekali, saya jadi ragu lagi ustadz. Akhirnya menjelang subuh (hitungan jadi hari ke-9) lagi saya dapati memang sudah kering, akhirnya saya memantapkan hati untuk mandi kembali dan menqodho sholat saya semalam, dan mendirikan sholat subuh, tapi kok pagi ini saya masih diliputi keraguan ya… insyaAllah kalau menurut kebiasaan saya mmg sucinya dg mndapati kering, jadi menurut ustadz… sebenarnya saya ini sucinya disore hari ke 8 apa pas jelang subuh tadi? karena setiap selesai mandi saya kmbali ragu2 dan mengingat adat haidh saya yang tdk tetap bilangannya seperti yang saya sebutkan di atas. sy memilih tdk menunggu kelauarnya cairan putih yang banyak, karena saya duluan mendapati kering, sdangkan cairan putih itu (tapi tidak putih betul, seperti ingus yg agak kuning samar) datangnya bs 2 3 atau 4, bahkan bisa lebih dari itu. mohon jawabannya ustadz, apakah mandi saya sudah sah? karena saya selalu diliputi keraguan, jangan2 saya belum suci, dan perlukah setelah mandi haidh, saya kembali memeriksa darah saya, padahal sebelum mandi saya sdh berusah memantapkan hati bahwa saya sdh suci dengan mendapati keringnya darah. Maaf kalau pertanyaannya terlalu panjang, jazakallaahulkhoyr.

  7. aku says:

    Assalamu’alaikum…
    saya mw tnya,, jd klw sdh klwr cairan putih berarti qt sdh suci?? tidak perlu menunggu smpai kering?? wlwpn cairan putih itu klwr 2-3hr?? lalu klw qt mw sholat,, dan underwearny terkena cairan putih trsbt,, perlukah mengganti underwear qt??

    Wassalam,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: