Mandi Wajib dan Pernak Perniknya

Apa itu mandi wajib?


Ketika seorang muslimah telah usai masa haidnya, maka wajib baginya untuk mandi dengan membersihkan seluruh badannya, sebagaimana sabda Nabi kepada Fatimah binti Abu Hubaisy,

“Bila kamu kedatangan haid maka tinggalkan shalat, dan bila telah suci mandilah dan kerjakan shalat.” (HR. Al-Bukhari).

Kewajiban minimal dalam mandi yaitu mengguyurkan air seluruh anggota badan sampai bagian kulit yang ada di bawah rambut. Yang afdhal (lebih utama), adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ditanya oleh Asma binti Syakl tentang mandi haid, beliau bersabda,

“Hendaklah seseorang di antara kamu mengambil air dan daun bidara lalu berwudhu dengan sempurna, kemudian mengguyurkan air di atas kepala dan menggosok-gosoknya dengan kuat sehingga merata ke seluruh kepalanya, selanjutnya mengguyurkan air pada anggota badannya yang lain. Setelah itu mengambil sehelai kain putih yang ada pengharumnya untuk bersuci dengannya. ‘Asma bertanya, “Bagaimana bersuci dengannya?” Nabi menjawab, “Subhanallah.” Maka Aisyah pun menerangkan dengan berkata, “Ikutilah bekas-bekas darah.” (HR. Muslim )

Bagaimana tata cara mandi wajib?

Tata cara mandi wajib karena haid adalah sama dengan mandi wajib karena junub, yaitu:

1. Membaca basmalah, dengan niat menghilangkan hadats besar melalui mandi. Selanjutnya membasuh kedua telapak tangan tiga kali.

2. Setelah itu beristinja dan membersihkan segala kotoran yang terdapat pada kemaluan.

3. Berwudlu seperti hendak mengerjakan sholat.

4. Selanjutnya menyiramkan air ke seluruh tubuh. Sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau pernah menceritakan,

“Apabila Rasullullah hendak mandi janabah beliau memulai dengan membasuh kedua telapak tangan sebelum beliau memasukkannya ke dalam bejana. Kemudian beliau membasuh kemaluan dan berwudhu sebagaimana hendak melaksanakan shalat. Lalu beliau menyela-nyela rambutnya dengan air. Setelah itu, beliau menyiram kepalanya tiga kali dan menyiram air ke seluruh tubuhnya.”

(HR. Imam At-Tirmidzi, dan beliau menshahihkannya)

5. Ketika mandi, wanita muslimah diwajibkan memperhatikan bagian ketiak, lutut dan pusar, sehingga bagian-bagian tersebut benar- benar terkena air. Demikian juga kulit kepala.

6. Seorang wanita muslimah disunnahkan untuk membawa kapas atau potongan kain yang telah diberi wewangian untuk mengusap tempat keluarnya darah atau mani guna menghilangkan sisa-sisanya. Seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ditanya oleh Asma binti Syakl tentang mandi haid, beliau bersabda,

“Hendaklah seseorang diantara kamu mengambil air dan daun bidara lalu berwudhu dengan sempurna, kemudian mengguyurkan air di atas kepala dan menggosok-gosoknya dengan kuat sehingga merata ke seluruh kepalanya, selanjutnya mengguyurkan air pada anggota badannya. Setelah itu mengambil sehelai kain putih yang ada pengharumnya untuk bersuci dengannya. ‘Asma bertanya, “Bagaimana bersuci dengannya?” Nabi menjawab, “Subhanallah.” Maka Aisyah pun menerangkan dengan berkata, “Ikutilah bekas-bekas darah.” (HR. Muslim)

Tentang mengurai gelungan (ikatan) rambut


Tidak wajib melepas gelungan rambut, kecuali jika terikat kuat dan dikhawatirkan air tidak sampai ke dasar rambut. Hal ini didasarkan pada hadits yang tersebut dalam Shahih Muslim dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Aku seorang wanita yang menggelung rambutku, haruskah aku melepaskannya untuk mandi janabat?” Menurut riwayat lain “untuk (mandi) haid dan janabat?” Nabi bersabda, “Tidak. Cukup kamu siram kepalamu tiga kali siraman (dengan tanganmu), lalu kamu guyurkan air ke seluruh tubuhmu, maka kamu pun menjadi suci.”

Tentang waktu mandi wajib


Apabila wanita haid mengalami suci di tengah-tengah waktu shalat, ia harus segera mandi agar dapat melakukan shalat pada waktunya. Jika ia sedang dalam perjalanan dan tidak ada air, atau ada air tetapi takut membahayakan dirinya dengan menggunakan air, atau sakit (yang jika dirinya terkena air maka akan memperparah sakitnya –ed), maka ia boleh bertayammum sebagai ganti dari mandi sampai hal yang menghalanginya itu tidak ada lagi, kemudian barulah dia mandi.

Ada di antara kaum wanita yang suci di tengah-tengah waktu shalat tetapi menunda mandi ke waktu lain yang mana mereka beralasan, ”Tidak mungkin dapat mandi sempurna pada waktu sekarang ini.” Akan tetapi ini bukan alasan ataupun halangan karena boleh baginya mandi sekedar untuk memenuhi yang wajib dan melaksanakan shalat pada waktunya.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya, “Apakah boleh menunda mandi karena junub hingga fajar terbit? Dan apakah boleh bagi wanita untuk menunda mandi haid dan mandi nifas hingga terbitnya fajar?” Beliau menjawab, “Jika masa haid seorang wanita telah habis sebelum fajar, maka ia diharuskan untuk berpuasa dan tidak ada larangan baginya untuk menunda mandi wajibnya itu hingga terbitnya fajar. Akan tetapi tidak boleh baginya untuk menunda mandinya hingga terbit matahari, bahkan wajib baginya untuk mandi dan melaksanakan shalat sebelum matahari terbit.” [Fatawa Ash-Shiyam, Syaikh Ibnu Baaz, 65].


Apa hikmah disyariatkan mandi wajib?


Pada intinya, mandi dapat membersihkan badan dari kotoran dan penyakit. Selain itu mandi mandi wajib juga merupakan salah satu cabang iman. Sebagamana hadits dari Abu Malik al-Harits bin Ashim al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersuci adalah separuh keimanan…”” (HR. Muslim)

Bersuci yakni menyucikan diri dari hadats dan kotoran, termasuk di dalamnya adalah mandi wajib. Oleh karena itu mandi wajib menjadikan wanita suci kembali, sehingga dapat melaksanakan sholat dan ibadah yang ketika sedang haid tidak boleh dikerjakan.

Ada yang membedakan antara mandi biasa dengan mandi wajib, ketika mandi wajib seorang wanita dianjurkan untuk mengusap tempat keluarnya darah atau air mani dengan kapas atau kain putih. Hikmahnya, kita dapat mengetahui apakah haid kita benar-benar berhenti atau tidak. Apabila kita junub maka dapat membersihkan sisa air mani.

Subhaanakallaahumma wabihamdika astaghfiruka wa atuubu ilaika.

[Ummu Shalihah]

Maraji’ :

-Fiqih wanita, penerjemah: M.Abdul Ghoffar E.M

-Salafi DB.

One Response to Mandi Wajib dan Pernak Perniknya

  1. bahasa islam says:

    sukran atas ilmuna..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: