Berlindunglah dari Empat Perkara Ini

Sesungguhnya ketakwaan adalah bekal yang terbaik. Maka selayaknya kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Saudariku muslimah yang dimuliakan Allah Ta’ala, ada empat perkara yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya. Oleh karena itu, setiap muslim pun hendaknya berlindung dari empat perkara tersebut, empat perkara yang sangat membahayakan kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Perkara pertama adalah ilmu yang tidak bermanfaat, yang ke dua adalah hati yang tidak pernah khusyuk, yang ke tiga adalah jiwa (hawa nafsu) yang tidak pernah merasa puas, sedangkan yang ke empat adalah doa yang tidak didengar oleh Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berdoa, berlindung dari empat perkara ini, Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari nafsu yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak didengar.” (HR. Muslim: 1295)

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang aku takuti di hari kiamat adalah ketika dikatakan kepadaku, ‘Apakah Engkau mengetahui atau tidak?’ Aku menjawab, ‘Aku mengetahui’. Maka tidak ada satu pun ayat dari Kitabullah yang memerintahkan atau melarang melainkan mendatangiku, menanyakan perintah dan larangannya. Ayat yang memerintahkan bertanya, ‘Apakah Engkau kerjakan?’ Dan ayat yang melarang bertanya, ‘Apakah Engkau tinggalkan?’ Maka aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari hawa nafsu yang tidak puas, dan dari doa yang tidak didengar.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Ad-Darimi, dan Ibnu Abdil Barr).

Perkara Pertama

Saudariku, sesungguhnya ilmu yang tidak bermanfaat ada dua macam:

Yang pertama adalah dari sisi ilmu yang dipelajari itu sendiri, maksudnya ilmu tersebut benar-benar tidak bermanfaat, seperti ilmu perdukunan, ilmu filsafat tentang ketuhanan, dan ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya yang memberikan bahaya kepada kehidupan manusia.

Yang ke dua, bisa jadi ilmu tersebut pada asalnya bermanfaat, seperti ilmu tentang Al-Qur’an dan Al-Hadits, akan tetapi tidak diamalkan atau disalahgunakan oleh pelakunya sehingga tidak bermanfaat bagi kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari kedua hal ini, karena ilmu yang tidak bermanfaat itu hanya akan menjadi bumerang yang menyeret pelakunya ke neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…dan Al-Qur’an adalah hujjah yang akan membelamu atau (boleh jadi) yang akan melawanmu…” (HR. Muslim: 223)

Saudariku,  oleh karena itulah kita berusaha untuk berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Orang-orang Yahudi menjadi kaum yang dibenci oleh Allah Ta’ala karena mereka mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkan dan mengikutinya, bahkan menolak kebenaran tersebut,…bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yaitu orang-orang Yahudi)..” (QS. Al-Fatihah: 7)

Saudariku, kerusakan yang ditimbulkan oleh ilmu yang tidak bermanfaat ini akan merusak semua sendi kehidupan manusia, hati mereka akan rusak, begitu pula agama, dunia, dan akhirat mereka pun akan rusak.

Ilmu-ilmu filsafat yang hanya sebatas bersandar kepada akal hanya akan merusak manusia. Munculnya pemikiran-pemikiran yang menyesatkan, syubhat-syubhat (kerancuan pemahaman -ed)  yang bathil, pada akhirnya akan menjadikan kebenaran seolah-olah tampak sebagai sebuah kebatilan. Demikian pula kebatilan akan tampak seolah-olah sebagai sebuah kebenaran. Sehingga manusia pun melihatnya dengan terbalik, sunnah dianggap bid’ah, taat dianggap maksiat, dan kebenaran dianggap sebagai sebuah kebatilan. Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan datang tahun-tahun yang menipu, yang dusta dianggap jujur, yang jujur dianggap dusta, yang khianat dianggap amanah, dan yang amanah dianggap khianat. Pada tahun-tahun itu ruwaibidhah pun berbicara.” Beliau ditanya, “Apakah ruwaibidhah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang hina (yakni dangkal ilmunya) berbicara tentang urusan yang besar.” (HR. Ibnu Majah dan yang lain, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3650)

Semua ini adalah akibat dari ilmu yang tidak bermanfaat. Berapa banyak syariat Islam yang ditinggalkan akibat dari ilmu yang tidak bermanfaat? Berapa banyak sunnah yang dihilangkan? Bahkan banyak orang dianggap sebagai ulama, akan tetapi mereka justru mengamalkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa banyak orang yang mengingatkan manusia kepada Allah, sementara dia sendiri lupa kepada-Nya. Betapa banyak orang yang menakut-nakuti manusia dengan Allah, ternyata dia lancang dan berani menentang Allah. Betapa banyak orang yang mengajak manusia mendekatkan diri kepada Allah, tetapi dia malah jauh dari Allah. Betapa banyak orang yang menyeru manusia kepada Allah, sedangkan dia sendiri malah lari dari Allah. Dan betapa banyak orang yang membaca Kitabullah, lalu dia melepaskan dirinya dari ayat-ayat Allah. Wal ‘iyadzubillah..

Akhirnya, terjadilah kerusakan dalam agama. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat takut terhadap “munafiq ‘alimul lisan”, yaitu seorang munafik yang pandai berbicara. Ya, semua ini akibat ilmu yang tidak bermanfaat.

Sungguh, jika ilmu tidak memotivasi pemiliknya untuk menjalankan ibadah kepada Allah, maka tidak ada nilainya. Jika ilmu tidak membuat pemiliknya dekat kepada Allah, maka tidak ada manfaatnya. Dan jika ilmu tidak mewariskan kepada pemiiknya untuk memiliki sifat al-khosy-yah (takut) kepada Allah, maka tidak ada kebaikan padanya.

Perkara ke dua

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari hati yang tidak pernah khusyuk. Sesungguhnya ketidak-khusyukan hati merupakan akibat dari kerasnya hati itu sendiri. Dan kekerasan hati merupakan akibat dari banyaknya maksiat kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya kerasnya hati merupakan sifat orang-orang ahlul kitab. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

Ingatlah selalu Saudarikuhati yang tidak khusyuk adalah akibat dari kerasnya hati, dan kerasnya hati adalah akibat dari banyaknya maksiat kepada Allah Ta’ala. Maka sungguh celaka seorang manusia yang hatinya tidak pernah khusyuk kepada Allah Ta’ala. Padahal keselamatan kita di akhirat tergantung pada keselamatan hati kita. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),Yaitu pada hari di mana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (selamat). (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)

Ya, bersih (selamat) dari kesyirikan, selamat dari syubhat, selamat dari syahwat (keinginan-keinginan yang terlarang), dan selamat dari berbagai macam penyakitnya.

Perkara ke tiga

Saudariku muslimah, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari perkara yang ke tiga yaitu hawa nafsu yang tidak pernah merasa puas. Sungguh menakutkan ketika hawa nafsu dan kelalaian mengendalikan jiwa manusia, sehingga pada waktu itulah manusia menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Akibat dari manusia terus menuruti hawa nafsunya, dia pun menjadikan hawa nafsu tersebut sebagai ilah (sesembahan -ed), sehingga pada waktu itu dia melihat dengan hawa nafsu, mendengar dengan hawa nafsu, dan berfikir pun dengan hawa nafsu. Wal iyadzubillah.

Berbeda dengan orang yang beriman, ia menundukkan hawa nafsunya untuk mengikuti apa yang Allah dan Rasul-Nya inginkan. Menjadikan hawa nafsunya selalu mengikuti Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Senantiasa berusaha menahan hawa nafsunya walaupun terasa berat dan pahit. Dia senantiasa ingat dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)

Tidak peduli betapa berat dan betapa pahit ketika ia menahan hawa nafsu itu. Yang dia inginkan adalah berusaha agar mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala. Oleh karena itu Saudariku, kita berlindung kepada Allah dari hawa nafsu yang senantiasa diperturutkan. Kita berlindung kepada Allah dari memperturutkan syahwat dan syubhat. Dua penyakit yang sangat kronis menimpa hati seorang hamba sehingga akhirnya ia pun menjadi pengekor hawa nafsunya.

Perkara ke empat

Saudariku muslimah, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari perkara yang ke empat, yakni dari doa yang tidak didengar. Merugilah seorang hamba yang doanya tidak didengar oleh Allah Ta’ala. Bagaimana tidak? Padahal Allah yang memberikan kepadanya berbagai macam kebutuhan. Bagaimana tidak? Seorang hamba yang sangat fakir dan butuh kepada rahmat Allah dan butuh kepada pemberian Allah, ternyata doanya tidak didengarkan oleh Allah Ta’ala.

Bayangkanlah saudariku, seseorang yang sangat butuh kepada orang lain ternyata permintaannya tidak didengar. Betapa sedihnya hatinya? Demikian pula, setiap hamba pasti butuh kepada Allah. Setiap hamba membutuhkan kasih sayang Allah. Namun, doanya ternyata tidak didengar oleh Allah Ta’ala. Apa sebabnya? Tentu Rasul kita yang mulia telah menyebutkan sebabnya. Di antaranya, manusia tersebut tidak mengingkari kemungkaran lagi walaupun dengan hatinya. Selain itu, dia senantiasa memakan makanan yang haram. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul.Maka Allah telah berfirman (yang artinya), ‘Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mukminun: 51). Dan Allah berfirman (yang artinya), Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172).
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Rabb, wahai Rabb’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan doanya?”
(HR. Muslim)

Wahai Saudariku, kita sangat butuh kepada rahmat Allah. Maka kita mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari doa yang tidak didengar.

Saudariku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar kita berlindung dari empat perkara di atas, karena perkara-perkara tersebut adalah kerugian yang amat nyata bagi seorang hamba. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Penulis: Ummu Izzah

Pemuroja’ah: Ust. M. Saifudin Hakim

Referensi:

– Doa dan Wirid Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta.

Panduan Lengkap Menuntut Ilmu [terj. Kitabul ‘Ilmi], Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin,  Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta.

Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka At-Taqwa, Bogor.

102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara, Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Alu Abdillah, Pustaka Elba, Surabaya.

– Ta’lim Ustadz Abu Yahya Badrussalam, Lc hafizhahullahu ta’ala

http://www.indoquran.com

http://abuzubair.net/

http://muslimah.or.id/

http://www.perpustakaan-islam.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: