Valentine’s Day

Saudariku, Engkau pasti mengetahui suatu hari di bulan Februari yang kental sekali dengan budaya saling bertukar bingkisan, memberi cokelat, semarak warna pink, ungkapan cinta dan kasih sayang dengan berbagai ekspresinya. Jika kita masuk mall atau supermarket di bulan Februari, maka kita akan melihat rak-rak yang berjajar berisikan beragam kartu ucapan Valentine’s Day dan hiasan-hiasan yang terpajang dengan warna pink. Semua itu adalah ajang untuk menyemarakkan suasana Hari Valentine yang jatuh setiap tanggal 14 Februari. Suatu hari yang selalu dinanti-nantikan oleh orang-orang yang dimabuk “cinta”, dan hari yang merupakan momen terpenting bagi para pemuja nafsu, bahkan di kalangan remaja muslim sekalipun.

Di Indonesia, sejak era 1980-an, perayaan Hari Valentine ini makin memprihatinkan. Bagi mereka, saat inilah waktu yang sangat tepat untuk mengungkapakan rasa cinta dan kasih sayang, terlebih lagi kepada lawan jenis atau pacar. Itu belum seberapa dibandingkan dengan berbagai trend lain yang kemudian bermunculan pada hari tersebut. Mulai dari berjoged semalaman hingga seks bebas yang dilakukan secara kolektif, wal ‘iyadzu billah. Perayaan yang penuh dengan pesta maksiat itu semakin berubah menjadi ajang melakukan dosa-dosa besar.

Cinta … Tahukah Engkau Saudariku, Apa Makna Cinta?

Cinta adalah sebuah kata yang indah dan mempesona yang hingga sekarang belum ada yang bisa mendefinisikan kata cinta itu sendiri. Meskipun demikian, setiap insan yang memiliki hati dan pikiran yang normal tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya. Saudariku, tahukah Engkau bahwa cinta yang bermanfaat itu terbagi menjadi tiga, yakni cinta kepada Allah, cinta karena Allah, dan cinta terhadap sesuatu yang dapat membantu mewujudkan ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat kepada-Nya. Engkau bisa menilai sendiri wahai Saudariku, cinta macam apa yang dituangkan dalam perayaan Hari Valentine ini. Sama sekali tidak membuat kita semakin dekat dengan Sang Pencipta, namun justru semakin menjauhkan kita dari-Nya dengan maksiat-maksiat yang timbul dari perayaan ini.

Sejarah Singkat Hari Valentine

Konon, sejak abad ke-4 SM, telah ada perayaan hari kasih sayang. Namun perayaan tersebut bukanlah perayaan Hari Valentine. Perayaan ini disebut dengan upacara Lupercaria karena ditujukan untuk menghormati dewa Lupercus. Dalam upacara ini para gadis mencari pasangan dengan menarik gulungan kertas yang berisikan nama pria yang akan menjadi pasangan mereka. Selanjutnya mereka menikah selama periode satu tahun, sesudah itu mereka bisa berpisah begitu saja. Setelah tidak lagi mempunyai pasangan, mereka menuliskan namanya kembali untuk dimasukkan ke kotak undian pada upacara tahun berikutnya.

Pada tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang dilaksanakan setiap tanggal 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal meninggalnya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepadanya. Dengan demikian, perayaan Lupercaria dihapus dan diganti dengan “Valentine’s Day”.

Dalam buku “The Catholic Encyclopedia Vol. XV” pada sub judul “St. Valentine” disebutkan bahwa terdapat tiga nama Valentine yang meninggal pada tanggal 14 Februari. Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan untuk menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan bahwa tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St. Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi ke dua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap bahwa tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang sudah menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah. Namun St. Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga dia ditangkap dan dihukum gantung pada tanggal 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan tertentu), dia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Lihat http://id.wikipedia.org/ dan sumber lainnya)

Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Hari Valentine berasal dari upacara keagamaan Romawi kuno yang penuh dengan paganisme dan kemusyrikan. Upacara tersebut akhirnya diubah menjadi ritual agama Nasrani yang diubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan meninggalnya St. Valentine, seorang tokoh Nasrani yang dianggap sebagai “pejuang dan pembela cinta”. Namun pada zaman sekarang ini, perayaan Valentine disamarkan dengan nama “Hari Kasih Sayang”.

Banyak dari kalangan remaja muslim yang ikut-ikutan merayakan Hari Valentine karena ketidaktahuan mereka terhadap latar belakang hari raya orang kafir ini. Pengekoran para remaja terhadap misi orang kafir ini didukung dengan aktivitas pergaulan mereka yang sudah tidak kenal dengan etika pergaulan lawan jenis menurut agama Islam. Sedikit demi sedikit, para remaja menjadi asing dengan Islam dan hampir tidak dapat dibedakan dengan orang kafir.

Valentine Bukan Perayaan Kita, melainkan Perayaan Orang Non-muslim (Kafir)

Di antara kerusakan yang terdapat dalam perayaan Hari Valentine adalah tasyabbuh atau mengikuti budaya orang kafir. Seorang muslim seharusnya memiliki kepribadian tersendiri yang membedakan dan menjadikannya istimewa dari orang non-muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar jangan sampai seorang muslim menyerupai orang kafir. Beliau sangat mengharamkan menyerupai orang kafir dari sisi penampilan luar -yang merupakan ciri khas mereka- karena hal itu bisa mengantarkan kepada sikap meniru mereka dalam hal keimanan dan keyakinan. Seorang muslim dilarang menyerupai orang-orang kafir baik dalam hal aqidah dan ibadah, maupun dalam adat kebiasaan, akhlak, dan perilaku yang merupakan ciri khas mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Kalian benar-benar akan meniru jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai sekiranya mereka memasuki lubang biawak kalian pun juga turut mengikutinya.” Kami (para sahabat) bertanya, ”Apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab, ”Siapa lagi?” (HR. Bukhari)

Perayaan Hari Valentine adalah acara ritual agama lain. Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta (karena Allah) merupakan sesuatu yang baik, tetapi bila dikaitkan dengan pesta ritual agama lain dan tradisi orang kafir, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka. Dari sisi inilah pemberian hadiah Valentine menjadi terlarang.

Sungguh ironis kondisi umat Islam saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Namun, mereka seolah-olah menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan Hari Valentine yang cikal-bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Tidak sepantasnya kaum muslimin merayakan hari tersebut setelah jelas bahwa ritual Valentine adalah ritual kaum kafir bahkan bermula dari ritual paganisme yang sangat bertentangan dengan aqidah Islam.

Valentine Dapat Menjerumuskan Kita Menuju Pintu Perzinaan

Perayaan Hari Valentine sekarang ini mengalami pergeseran. Jika di masa Romawi, perayaan ini terkait erat dengan para dewa dan mitologi sesat, kemudian oleh orang Nasrani dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama mereka, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi yang berujung pada perbuatan zina. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih. Pada Hari Valentine ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan agama seperti bergandengan tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah (zina) di kalangan muda-mudi yang dimabuk cinta itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa. Wal ’iyadzu billah..

Tahukah Engkau wahai Saudariku, bahwa mendekati zina saja diharamkan, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya, jika mendekati zina saja tidak boleh, maka terlebih lagi kalau sampai melakukan zina (jelas-jelas lebih terlarang).

Valentine Merupakan Perayaan yang Sia-Sia dan Meniru Perbuatan Setan

Menjelang Hari Valentine, beragam coklat, bunga, hadiah, dan suvenir laku keras. Berapa banyak uang yang dihambur-hamburkan ketika itu! Padahal harta tersebut bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan kepada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain karena lebih senang mengikuti perbuatan setan daripada hal baik lainnya.

Pemborosan yang dilakukan ketika itu totalnya mungkin bisa mencapai milyaran rupiah. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah Ta’ala (yang artinya), Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini (pemborosan). Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah membelanjakan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim)

Sikap Seorang Muslim terhadap Perayaan Valentine

Saudariku, sikap yang harus kita lakukan agar tidak terjerumus ke dalam pintu kemaksiatan kepada Allah dalam hal ini adalah:

1. Tidak ikut merayakan Hari Valentine, menyertai orang yang merayakannya, atau menghadirinya.

2. Tidak membantu atau mendukung orang kafir dalam perayaan mereka dengan memberikan hadiah, menyediakan atau meminjamkan peralatan untuk perayaan tersebut, karena semua ini termasuk bentuk tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran, serta termasuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al-Maidah: 2)

3. Tidak membantu kaum muslimin yang ikut-ikutan merayakannya. Bahkan ia wajib mengingkari mereka, karena perbuatan kaum muslimin yang merayakan hari raya orang kafir adalah perbuatan mungkar yang harus diingkari. Kaum muslimin tidak boleh pula menjual bingkisan (pernak-pernik) yang bertemakan Hari Kasih Sayang, karena memperjualbelikannya termasuk membantu kemungkaran. Sebagaimana juga tidak boleh bagi orang yang diberi hadiah Hari Kasih Sayang untuk menerimanya, karena menerimanya mengandung makna persetujuan terhadap perayaan ini.

4. Tidak memberikan ucapan selamat Hari Kasih Sayang, karena hari itu bukanlah hari raya kaum muslimin. Bila seorang muslim diberi ucapan selamat Hari Kasih Sayang, maka dia tidak boleh membalasnya.

5. Menjelaskan hakikat perayaan ini dan hari-hari raya orang kafir yang semisalnya kepada kaum muslimin yang tertipu dengannya.

Harus diingat, cinta dalam Islam merupakan sesuatu yang sangat bernilai tinggi. Cinta pertama dan utama yang harus dipupuk oleh setiap muslim adalah cinta kepada Allah Ta’ala. Cinta adalah unsur tertinggi dalam ibadah kita kepada Allah Ta’ala. Kasih sayang sesama muslim tidaklah terikat oleh waktu tertentu dan harus dijaga sepanjang hayat kita. Aktivitas perwujudan cinta kita terhadap saudara kita sesama muslim bisa dilakukan kapan pun, tidak perlu pada hari tertentu saja semisal hari Valentine. Cukuplah bagi kita kesempurnaan Islam dan syariatnya.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah kepada kaum muslimin dan menjaga kita dari tipuan setan yang berusaha memalingkan manusia dari jalan-Nya. Amin.

[Ummu Fauzan]

Referensi:

Buhul Cinta, Armen Halim Naro, Pustaka Darul Ilmi, Bogor.

– Majalah ElFata, Vol 07:2, 2007.

http://www.rumaysho.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: