Menyegarkan Kembali Hakikat Ibadah Kita

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat Islam dan iman…

Tidakkah Engkau menyadari bahwa janji Allah adalah surga? Sesungguhnya apa yang Engkau inginkan dari dunia ini? Tidakkah Engkau tahu bahwa hanya amal yang ikhlas sajalah yang akan diterima oleh Allah?

Wahai Saudariku… Murnikanlah Ibadahmu Hanya kepada Allah…!

Allah Ta’ala menciptakan manusia dan jin tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya semata. Dan Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada setiap mukallaf (orang yang sudah dikenai beban syari’at) untuk senantiasa ikhlas dalam setiap aktivitasnya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Padahal mereka tidaklah disuruh melainkan untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 5) Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya), “ Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia mengujimu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Fudhail bin Iyadh rahimahullah menjelaskan ayat di atas, “Yang dimaksud dengan  yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Ali, apa yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling benar?” Kemudian Fudhail bin Iyadh menjawab, “Sesungguhnya amal apabila dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar, tidak akan diterima. Demikian juga apabila dilakukan dengan benar namun tidak ikhlas, maka juga tidak akan diterima. Hingga amal itu dilakukan dengan ikhlas dan benar. Amal yang ikhlas adalah amal yang ditujukan untuk Allah semata, sedangkan amal yang benar adalah amalan yang sesuai dengan sunnah (petunjuk Rasulullah).

Dari penjelasan Fudhail bin Iyadh rahimahullah ini dapat diambil kesimpulan bahwa syarat diterimanya amal ibadah ada dua macam, apabila salah satu syarat tersebut tidak tepenuhi, maka amal tersebut tidak akan diterima. Dua syarat tersebut yaitu niat yang ikhlas dan ittiba’ (sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Lalu, sudahkah kita memenuhi kedua syarat tersebut ketika beramal?

Apa itu Ikhlas?

Hakikat ikhlas adalah seorang hamba menghendaki -dengan amal yang dilakukannya- untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala semata. Para ulama telah memberikan definisi ikhlas sebagai berikut:

  1. Ikhlas adalah mentauhidkan Allah Ta’ala sebagai tujuan dalam melakukan amal ketaatan.
  2. Ikhlas adalah adanya keseimbangan dalam amalan seorang hamba antara amalan dhahir (yang tampak) dan amalan batin. Sedangkan riya’ adalah keadaan dhahir lebih baik daripada keadaan batinnya. Adapun ikhlas adalah kondisi di mana batin seorang hamba lebih baik daripada dhahirnya.
  3. Ikhlas adalah membersihkan amal dari semua perkara yang mengotorinya (mencampurinya).

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ikhlas adalah melakukan amal perbuatan untuk ber-taqarrub kepada Allah Ta’ala semata, tidak karena riya’, sum’ah (supaya didengar orang), tidak dibuat-buat, akan tetapi semata-mata hanya mengharap pahala Allah Ta’ala, takut akan hukuman-Nya, serta mengharap ridha-Nya.

Oleh karena itu, Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, melakukan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah apabila Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”

Amal Shalih yang Tidak Berguna

Wahai Saudariku, tidakkah Engkau beramal hanya untuk mengharapkan negeri akhirat (surga)? Tidakkah Engkau takut bahwa amalmu tidak akan diterima? Tahukah Engkau amal yang seperti apa yang tidak akan berguna?

Beberapa fenomena di bawah ini merupakan gambaran amal shalih yang tidak menghasilkan pahala bagi pelakunya di akhirat kelak.

  • Orang-orang yang beramal ikhlas karena Allah Ta’ala. Akan tetapi, ia menghendaki untuk diberikan balasan di dunia semata, dan tidak mengharapkan pahala di akhirat. Seperti orang yang shalat dengan ikhlas karena menjalankan perintah Allah Ta’ala, namun ia menghendaki dengan shalatnya itu agar rizkinya lancar, jabatannya langgeng, dan lain-lain.
  • Amal shalih yang dilakukan sebagai perantara untuk mencari harta. Seperti orang yang menuntut ilmu syar’i untuk mendapat ijazah dan dapat berguna untuk mencari pekerjaan. Dia tidaklah menuntut ilmu dengan tujuan untuk menghilangkan kebodohan dan mengenal syari’at agamanya. Jika demikian niatnya, maka dia tidak beramal shalih. Secara lahiriyah memang ia beramal shalih. Akan tetapi kalau dilihat batinnya, maka tujuannya amatlah rendah.
  • Amal shalih yang murni karena riya’.
  • Amal shalih yang dilakukan dengan ikhlas, tetapi dirinya berstatus kafir atau musyrik. Misalnya seseorang melaksanakan shalat dan puasa, tetapi ia juga berbuat kemusyrikan (syirik akbar) seperti memberikan sesaji kepada jin, bernadzar untuk selain Allah, dan lain sebagainya.

Beramal karena Tujuan Akhirat dan Dunia

Adapun jika seseorang dengan amalnya tersebut menghendaki pahala duniawi dan akhirat, maka hal ini tidaklah mengapa. Hal ini sebagaimana fiman Allah Ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Dalam ayat ini, Allah menjanjikan dunia sebagai balasan untuk ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba. Ini pun dengan syarat niat utamanya adalah untuk beribadah. Karena pada asalnya, hendaknya kita tidak beribadah untuk manfaat duniawi. Adapun hasil dari dunia hanyalah buah dari keutamaan yang Allah Ta’ala berikan kepadanya.

Terkait dengan hal ini, amal ibadah dibagi menjadi dua jenis. Pertama, amal ibadah yang dikaitkan oleh syari’at dengan pahala dunia. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah memotivasi manusia dengan menyebutkan pahala yang akan diperoleh di dunia. Seperti ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi umatnya untuk bersilaturahim agar mendapatkan kelapangan rizki dan memperpanjang umur (HR. Bukhari). Maka, jika ia meniatkannya untuk mendapatkan pahala di akhirat dan dunia sekaligus, hal ini tidaklah mengapa. Karena tidaklah syari’at menyebutkan pahala di dunia kecuali untuk mendorong umatnya agar melakukan amal tersebut.

Ke dua, amal ibadah yang tidak dikaitkan oleh syari’at dengan pahala atau balasan di dunia. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya juga tidak mendorong manusia untuk melakukan ibadah tersebut dengan menyebutkan pahala di dunia. Seperti shalat untuk kenaikan pangkat di kantornya. Maka, jika dia shalat untuk meraih hal tersebut, hal ini tidak diperbolehkan.

Dunia pun akan Menghampirimu

Syari’at memang membolehkan bagi seseorang untuk berniat mencari pahala di dunia di samping juga mencari pahala di akhirat bagi amal ibadah yang dikaitkan dengan balasan di dunia. Namun, yang perlu diperhatikan bahwa hal ini akan mengurangi kesempurnaan pahala yang akan diraih di akhirat. Seseorang yang masih meniatkan amal ibadahnya untuk dunia, hal ini menunjukkan kurangnya kesempurnaan tauhid yang ada di dalam hatinya. Seharusnya, ia memurnikan niatnya hanya untuk meraih balasan akhirat dan tidak meniatkannya untuk dunia. Hal ini justru merupakan sebab kemudahan untuk mendapatkan dunia sesuai dengan janji Allah Ta’ala dalam surat Ath-Thalaq di atas. Dan kelak di akhirat ia akan mendapatkan balasan yang sempurna.

Akan tetapi, jika ia meniatkannya untuk meraih dunia semata, maka ia akan mendapatkan dunia sebatas apa yang ia inginkan dan sebatas pada apa yang telah Allah Ta’ala takdirkan. Sedangkan di akhirat dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali siksa yang pedih di neraka. Wal ‘iyaadzu billaah..

Bagaimana jika Amal Tidak Diikhlaskan karena Allah?

Beramal jika tidak diikhlaskan karena Allah sangatlah berbahaya, karena hal tersebut dapat menghilangkan keberkahan amal shalih dan membatalkannya. Na’udubillahi min dzalik. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Maka perumpamaan itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai satu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir itu.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Ini adalah pengaruh dari amal ibadah yang tidak diniatkan karena Allah Ta’ala. Hal ini akan menghapuskan amal shalih pada waktu pelakunya tidak memiliki kekuatan, pertolongan, dan tidak dapat menolak atas hal tersebut. Allah Ta’ala telah memberi perumpamaan orang yang beramal tidak ikhlas karena Allah dalam firman-Nya (yang artinya), “Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di dalam kebun itu ia memiliki beraneka ragam buah-buahan. Kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang ia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu memikirkannya.” (QS. Al-Baqarah: 266)

Amal shalih ini pada mulanya seperti kebun yang luas dan beraneka ragam buah-buahan, lalu apakah ada seseorang yang senang jika kebun yang luas dengan buahnya yang berlimpah ini kemudian dikirimkan api (riya’) yang dapat menghanguskannya, padahal ia sangat membutuhkannya? Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu yang lainnya. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan meninggalkan persekutuannya.” (HR. Muslim)

Lalu, Bagaimana Mengikhlaskan Niat karena Allah?

Saudariku, setelah kita mengetahui bahaya amal yang tidak diikhlaskan karena Allah, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk menghilangkannya dan mengobatinya. Bagaimana cara mengobatinya? Berikut ini caranya:

  1. Mengetahui amal-amal yang ditujukan kepada dunia, faktor-fakor penyebab dan bahayanya, kemudian memutus akar-akar dan sumbernya.
  2. Mengetahui keagungan Allah Ta’ala dengan mengetahui nama, sifat, dan perbuatan-Nya dengan pemahaman yang benar. Sesungguhnya jika seorang hamba mengetahui bahwa hanya Allah Ta’ala sajalah yang memberikan manfaat, bahaya, menjadikan mulia dan hina, merendahkan dan mengangkat derajat, yang memberi dan mencegah, yang menghidupkan dan mematikan, yang mengetahui mata-mata yang berkhianat dan apa yang ada di dalam hati, niscaya ia akan berhati-hati dari  beramal yang bukan karena Allah.
  3. Mengetahui apa yang dijanjikan Allah pada hari kiamat kelak meliputi nikmat surga dan siksa neraka, kematian yang menakutkan, serta adzab kubur. Jika seseorang mengetahui hal itu, maka ia akan meninggalkan amal yang bukan karena Allah dan menuju pada keikhlasan.

Setelah kita mengetahui bahaya-bahaya amal yang tidak ikhlas karena Allah serta janji-janji-Nya, masihkah kita meniatkan amal karena tujuan dunia?

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar menjaga penulis, para pembaca, seluruh umat Islam dari bala’ yang sangat berbahaya ini. Tidak ada daya, upaya, dan kekuatan selain datang dari Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

[Ummu Umar]

Referensi:

Ketika Keikhlasan Berbicara, Dr. Said bin Ali Wahf Al- Qahthaani, Daar An-Naba’.

Mutiara Faidah Kitab At-Tauhid, Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim.

2 Responses to Menyegarkan Kembali Hakikat Ibadah Kita

  1. Kang. Dadang S says:

    Bismillah. izin copy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: