Jika Kau Jatuh Hati

Jika Kau Jatuh HatiBagian I

Saudariku muslimah, marilah kita bersyukur kepada Allah ta‘aala atas setiap kenikmatan yang diberikan kepada para hamba-Nya. Sebuah anugerah yang indah dari Allah yang membedakan insan manusia dengan makhluk lainnya, yang menghiasi perjalanan hidup manusia hingga tampak indah dan berwarna, anugerah itu adalah ‘cinta’. Wajah yang murung menjadi tersenyum karena cinta, bunga-bunga bermekaran karena cinta, sebuah karang es yang dingin mencair karena cinta, hati pun menari karena cinta.

Cinta dalam bahasa Arab disebut dengan hubb, berasal dari kata habba yuhibbu yang artinya zat yang paling dalam. Cinta adalah sesuatu yang tidak bisa terungkapkan dengan kalimat, sulit diraba oleh kata, tidak cukup tergambarkan oleh pena, kecuali dengan kata ‘cinta’ itu sendiri. Ibnu Qayyim mengungkapkan, “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madaarijus Salikiin, 3/9)

Ada Apa dengan Pacaran???

Saudariku muslimah… begitu indahnya cinta, begitu tampak indahnya jatuh cinta, mencintai, dan dicintai. Ketika rasa cinta itu melanda hati anak manusia, bergejolaklah hatinya, merindukan orang yang dicintainya. Begitulah kiranya mungkin yang terjadi pada pemuda dan pemudi yang mulai tertarik pada lawan jenis, dan mulailah mereka menjalin suatu hubungan yang saat ini sudah menjadi trend dan gaya anak remaja zaman sekarang, bernama pacaran. Pada zaman ini, pacaran bukan lagi untuk mencari pasangan, tetapi pacaran hanya sekedar main-main dan mengikuti budaya barat yang saat ini kian merebak.

Muslimah… relakah dirimu bila cinta yang suci itu ternodai dengan banyak hal yang terkandung dalam istilah ‘pacaran’ itu? Relakah sesuatu  yang paling dalam dari hatimu itu tenggelam dalam pekatnya lumpur hubungan tak jelas itu?

Saudariku, mari kukenalkan padamu sedikit tentang hal-hal yang kiranya dilakukan oleh orang-orang yang berpacaran pada umumnya.

1. Berkhalwat dengan lawan jenis

Berkhalwat artinya berduaan dengan lawan jenis tanpa ditemani oleh mahram. Padahal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya” (HR. Ahmad).

Khalwat adalah salah satu pintu menuju zina, karena dalam keadaan tersebut tidak ada lagi selain mereka berdua kecuali setan yang terus meniupkan hasutan untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai namun dibenci oleh Islam, sedangkan mereka tidak menyadari bahwa Rabb mereka Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

 2. Ikhtilaath

Saudariku muslimah, tidakkah engkau melihat pemuda-pemudi yang bukan mahram bercampur baur dan saling berbincang tanpa malu-malu lagi. Padahal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan keteladaan dalam pelaksanaan shalat berjamaah yang terdapat kaum laki-laki dan perempuan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf terdepan dan sejelek-jeleknya adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah shaf terdepan” (HR. Muslim).

Jika ketika menghadap Rabb kita saja, kita diperintahkan untuk memisahkan diri dari lawan jenis, lalu bagaimana jika di luar ibadah? Padahal Allah itu Maha Melihat dan Mengetahui, Dia selalu melihat dan mengetahui perilaku hamba-Nya di setiap waktu, tidak hanya ketika shalat saja.

 3. Berbagai bentuk zina anggota badan

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakan.

Hadits ini menunjukkan bahwa memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata. Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya) dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan.

Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan memegang atau yang lainnya adalah zina tangan. Mengayunkan langkah menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan adalah zina kaki.

Sementara kalbu berkeinginan dan mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu. Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan yang berarti kemaluannya telah membenarkan; atau dia selamat dari zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan. (Lihat Syarh Riyaadhis Shaalihiin karya asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, pada syarah hadits no. 1622)

Saling memandang satu sama lain, saling bercengkerama dengan kata rayuan indah dan dibuai dengan bumbu-bumbu kebohongan, kemudian tangan pun mulai mencari-cari kesempatan untuk bisa meraih tangan kekasihnya. Kaki pun akan selalu ringan menuju kepada kekasihnya. Sementara hati, selalu merindukan dan mengangan-angankan kekasih yang memikatnya. Lalu, itu semua akan berujung kepada perbuatan zina. Saudariku muslimah… pantaskah engkau menodai kehormatanmu dengan perbuatan-perbuatan itu?

Islam tidak melarang seorang pria mencintai seorang wanita atau sebaliknya, bahkan Islam memberikan penghargaan yang begitu mulia dengan adanya pernikahan. Akan tetapi, kemuliaan itu tidak akan diraih kecuali dengan sesuatu yang mulia. Oleh karena itu, tempuhlah jalan yang mulia untuk meraih kemuliaan itu, saudariku.

Ta’aruf Syar’i bukan Pacaran Islami

Lalu bagaimana dua orang insan yang tidak saling mengenal bisa bersatu dan hidup bersama dengan berbagai kelebihan dan kekurangan antara keduanya? Mungkin, sudah sedikit engkau mengenal mengenai istilah ‘ta‘aaruf’. Taaruf berasal dari kata (bahasa Arab_red) ‘arafa yang artinya mengetahui, kemudian mendapat tambahan huruf ‘ta’ dan ‘ra’ yang merubah artinya menjadi taarrafa bermakna saling. Jadi taaaruf bisa diartikan saling berkenalan.

Ta’aruf bukanlah istilah untuk penghalalan pacaran sebelum pernikahan, tetapi istilah ini hanyalah nama untuk sebuah proses yang dilalui seseorang untuk mengenal calon pasangan dengan tetap menjaga adab dan syari’at yang berlaku. Seperti tetap menjaga pandangan, menutup aurat, tidak berkhalwat, tidak berpegangan tangan, dan tidak berta‘aruf melalui HP, sms, chatting, atau FB.

Ketahuilah saudariku… orang yang paling berhak untuk mencarikan pendamping untukmu adalah ayah. Oleh karena itu, barang siapa yang berniat menikahi seorang perempuan, maka cara yang paling tepat adalah menghubungi walinya.

Seorang wali yang ingin menikahkan anak gadisnya juga diperbolehkan mengenalkannya kepada seseorang yang dikehendaki. Sebagaimana ‘Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu memberikan contoh kepada kita tatkala mencarikan suami untuk putrinya, Hafshah. ‘Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu bercerita, “Aku mendatangi ‘Utsman bin ‘Affan dan menawarkan Hafshah kepadanya. ‘Utsman menjawab, ‘Saya akan melihat urusan saya terlebih dahulu.’ Kemudian aku diam beberapa malam, lalu ‘Utsman menemuiku dan berkata, ‘Tampaknya saya tidak akan menikah dalam waktu dekat ini.’

 Kemudian aku menemui Abu Bakr ash-Shiddiq, dan aku berkata, ‘Jika engkau menghendaki aku akan menikahkanmu dengan Hafshah binti ‘Umar.’ Abu Bakr hanya diam dan tidak memberikan jawaban apapun. Ternyata apa yang dilakukan lebih buruk dari apa yang dilakukan ‘Utsman kepadaku. Aku pun menunggu beberapa malam, kemudian Rasulullah meminang Hafshah dan kunikahkan Hafshah dengannya.…” (HR. Bukhari)

Lalu bagaimana mungkin seseorang itu mampu hidup bersama orang asing yang belum pernah sama sekali dikenal dalam hidupnya? Ada sebuah cara yang dicontohkan oleh para pendahulu kita. Seorang shahabiyyah bernama Fathimah bintu Qais, ketika habis masa iddah setelah perceraiannya dengan suaminya, datanglah ia kepada Rasulullah dan mengabarkan bahwa ia dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abul Jahm.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sedangkan Mu’awiyah seorang yang fakir tidak berharta, maka (jangan engkau menikah dengan salah satunya, tapi) menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim no. 3681). Hadits tersebut menunjukkan dianjurkannya meminta pertimbangan kepada seseorang yang dianggap shalih mengenai orang yang akan melamar.  

Seorang gadis, juga diperbolehkan menawarkan diri kepada seorang laki-laki shalih. Seperti yang diceritakan sahabat Tsabit al-Bunaani, “Ketika itu aku sedang bersama Anas dan putrinya, Anas berkata, ‘Seorang perempuan datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan dirinya untuk Nabi. Wanita itu berkata: Wahai Rasulullah, apakah Anda menginginkanku?’ Kemudian putri Anas bin Malik berkata, ‘Sungguh kecil sekali rasa malunya…’ dan Anas pun berkata, ‘Wanita itu lebih baik darimu, dia ingin menjadi ummahatul mukminin maka dia tawarkan dirinya kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.’”(HR. Bukhari)

Hadits  ini menunjukkan bahwa Islam tidak mencela seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada orang shalih karena menimbang keshalihannya, dan mengharapkan kehidupan yang lebih baik jika menikah dengan orang yang dapat membimbingnya untuk selalu taat kepada Allah ta‘aala.

 Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Maha Besar Allah yang telah memberikan karunia yang begitu besar kepada kita sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk menyelesaikan pembahasan mengenai ta’aruf. Setelah pembahasan ta’aruf yang sesuai dengan syariat Islam, maka pada kesempatan ini kita lanjutkan pembahasan ke tahap selanjutnya.

Bagian II

Naar

Apabila sudah merasa cocok untuk menikah dengan seseorang yang telah menjadi pilihan hatimu, maka sebelum engkau benar-benar menerimanya, lihatlah dirinya. Islam memperbolehkan seorang pelamar melihat wanita yang ingin dinikahinya (naẓar), begitu juga dengan wanita yang dilamar juga diperbolehkan melihat laki-laki yang akan melamarnya.

Sebagaimana yang diceritakan dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian ingin melamar seorang wanita maka jika dia mampu untuk memandang pada wanita tersebut apa yang mendorongnya untuk menikahi sang wanita maka hendaknya ia lakukan” (HR. Ahmad). Hadits ini menunjukkan diperbolehkannya seorang laki-laki melihat perempuan yang ingin dinikahinya dan begitu juga sebaliknya. Akan tetapi dengan tetap menjaga kehormatan diri dan kehormatan perempuan tersebut.

 Khitbah  

Khitbah adalah meminta untuk menikahi seorang wanita dengan wasilah (perantara) yang telah menjadi kebiasaan di suatu daerah, jika wanita itu menyatakan setuju, maka itu hanyalah sebatas janji untuk menikah dan tidak menjadikan perempuan itu halal baginya sampai terjadi akad nikah (‘Abdul ‘Aẓīm al-Badawī, 2009:330).

Khitbah bukan syarat nikah, khitbah hukumnya sunnah. Pada asalnya melamar itu pada walinya, namun boleh melamar langsung kepada wanita, apabila wanita itu sudah dewasa. Ketika laki-laki ingin menikah, maka hendaklah dia memperhatikan perempuan mana saja yang boleh dilamar.

Ibnu Umar (berkata), “Rasulullah melarang untuk membeli sesutu yang telah dibeli orang lain, dan melarang melamar seorang perempuan yang telah dilamar oleh orang lain, sampai ia ditinggalkan oleh pelamar yang pertama atau diizinkan oleh pelamar yang pertama.”

Bila terlanjur jatuh hati

Jika engkau telah berusaha untuk menjaga pandangan dan hatimu, tetapi Allah menghendaki engkau menerima cobaan itu, maka berpikirlah segera apakah dia adalah orang yang benar-benar pantas untuk engkau jatuh hati kepadanya? Lalu sibukkan hati dan jiwamu kepada hal-hal yang bermanfaat untukmu dan selalu berusaha untuk ikhlas menjalankan ibadah kepada Allah ta’āla.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sungguh, jika hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya ia tidak akan menjumpai hal-hal lain yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya. Atau karena adanya sesuatu yang ditakutinya. Cinta yang buruk akan bisa dihilangkan dengan cinta yang baik. Atau takut terhadap sesuatu yang membahayakannya.”

Apabila itu semua belum bisa menolongmu, maka ingatlah sabda Rasulullah ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri” (HR. Bukhari dan Muslim). Terakhir, iringilah setiap langkahmu dengan doa.

Sebelum kuakhiri risalah ini, ingin kusampaikan sebuah kisah indah sahabat Rasulullah ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam yang paling mulia. Sebelum Rasulullah ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, beliau mengirim sebuah pasukan besar sejumlah 700 orang untuk menyerang negara Romawi, yang dipimpin oleh seorang panglima yang masih sangat belia, yaitu Usamah bin Zaid.

Usianya dikala itu kurang lebih baru 19 tahun. Ketika pasukan besar itu sampai di sebuah daerah, terdengar kabar bahwa Rasulullah ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia. Maka berhentilah pasukan itu dan mulailah kaum muslim di sekitar Madinah murtad. Para shahabat menjadi khawatir (dan)  berkata kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, kembalikan pasukan yang dikirim ke kerajaan Rum itu, apakah mereka diarahkan ke Rum sedang orang-orang Arab di sekitar Madinah telah murtad?”

Maka Abu Bakr raẓiyallāhu ‘anhu berkata, “Demi yang tidak ada sesembahan yang berhak (disembah) selain-Nya, andaikata anjing-anjing telah berlari di kaki-kaki para istri Rasulullah ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam, saya tidak akan menarik suatu pasukan pun yang dikirim oleh Rasulullah ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam dan saya tidak akan melepaskan bendera yang diikat oleh Rasulullah.”

Perhatikanlah saudariku… betapa teguh dan gigihnya Abu Bakr memegang teguh sunnah Rasulullah ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam. Meski dalam keadaan yang sangat genting seperti itu, beliau begitu yakin dengan kemenangan yang akan diraih oleh pasukan kaum mukminin yang telah diutus oleh Rasulullah ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam sendiri.

Maka yang terjadi setelah itu, setiap kali pasukan Usamah bin Zaid melewati suatu suku yang murtad, suku yang murtad itu berkata, “Andaikata mereka itu tidak mempunyai kekuatan, tentu tidak akan keluar pasukan sekuat ini dari mereka. Tetapi kita tunggu sampai mereka bertempur melawan kerajaan Rum.”

Lalu bertempurlah pasukan Usamah bin Zaid menghadapi kerajaan Rum (Romawi) dan pasukan Usamah berhasil mengalahkan dan membunuh mereka. Kemudian kembalilah pasukan Usamah dengan selamat dan orang-orang yang akan murtad itu tadi tetap di atas Islam.

Maka saudariku muslimah… berpegang teguhlah engkau dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, lakukanlah yang terbaik di setiap harimu dan yakinlah, yakinlah bahwa janji Allah atas hamba-Nya adalah benar.

“Wanita-wanita yang keji dalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula…” (QS An-Nuur: 26).

 

Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-akhirati ḥasanah, wa qinā ‘ażaban-nār..

Subhanakallāhumma wa biḥamdika asyhadu an lā ilāha illa anta astagfiruka wa atūbu ilaik..     

[Rinautami Ardi Putri]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: